- Persisten
- Tidak mudah berhenti ketika menghadapi kegagalan atau hambatan.
- Bersedia mencoba pendekatan lain ketika cara pertama tidak berhasil.
- Memiliki sense of ownership
- Menganggap hasil pekerjaan sebagai tanggung jawab pribadi.
- Tidak cepat menyalahkan keadaan atau orang lain ketika terjadi masalah.
- Mau belajar secara mandiri
- Mencari pengetahuan atau keterampilan baru karena menyadari bahwa dirinya membutuhkannya.
- Ini berkaitan erat dengan konsep continuous learning.
- Mampu melakukan self-management
- Dapat mengatur waktu, energi, prioritas, dan disiplin diri.
- Tidak terlalu bergantung pada pengawasan eksternal.
Semua bidang pekerjaan membutuhkan self-driven, namun dalam tingkat yang berbeda. Yang membedakan adalah seberapa besar otonomi, inisiatif, dan decision-making yang melekat pada pekerjaan tersebut.
Pekerjaan yang sangat membutuhkan self-driven terutama adalah pekerjaan yang:
- targetnya berbasis hasil, bukan sekadar mengikuti prosedur;
- banyak menghadapi masalah yang tidak terduga;
- membutuhkan keputusan mandiri;
- berubah cepat;
- membutuhkan pembelajaran terus-menerus.
Contoh: enterpreuner, sales/business development, konsultan, peneliti, engineer, product manager, digital/creative professional, manajer, freelancer, atau pekerjaan yang berbasis proyek.
Pekerjaan-pekerjaan seperti ini, jika selalu menunggu instruksi bisa langsung menghambat kinerja.
Selain itu, ada pekerjaan yang membutuhkan self-driven, namun dalam batas prosedur. Ada sejumlah pekerjaan yang punya SOP sangat ketat, sehingga ruang improvisasi terbatas.
Misal: operator produksi, teknisi tertentu, quality control, laboratorium, administrasi, customer service, beberapa pekerjaan di bidang kesehatan, dan pekerjaan yang terkait dengan keselamatan.
Baca Juga: 5 Tahap Project Management, dari Inisiatif hingga Hasil Akhir yang Diharapkan
Dalam bidang-bidang ini, self-driven lebih pada pekerja menjalankan prosedur dengan disiplin dan mengambil tindakan yang tepat ketika menemukan masalah.
Contoh: seorang operator menemukan ketidaksesuaian dalam proses produksi. Ia tidak boleh sembarangan mengubah prosedur, tetapi ia bisa segera menghentikan proses sesuai kewenangannya, melaporkan masalah, mencari informasi, dan mengusulkan perbaikan.
Yang perlu diingat, self-driven itu tidak berarti harus selalu kreatif atau inovatif. Pekerjaan-pekerjaan rutin pun tetap membutuhkan self-driven.
Misal, datang ke tempat kerja dan mempersiapkan pekerjaan tanpa harus diingatkan, menjaga kualitas tanpa harus selalu diawasi, mencari cara agar proses lebih efisien, dan sebagainya.
Semua pekerjaan pada dasarnya membutuhkan responsibility dan inisiatif. Banyak pekerjaan membutuhkan self-driven. namun, pekerjaan dengan otonomi yang tinggi, membutuhkan self-driven plus inisitif plus judgement plus adaptability. ***