Sebuah riset CIPD pada tahun 2014 bahkan menekankan bahwa agile working bukan sekadar bentuk pengaturan flexible working tertentu seperti kerja dari rumah sekali seminggu.
Agile working itu lebih pada mengubah pola pikir dari budaya kerja tradisional 9-to-5 menuju cara yang lebih lincah, dengan prinsip dasar saling percaya dan akuntabilitas atas peran masing-masing dalam memberikan layanan terbaik.
4. Mencakup ruang fisik kantor juga
Agile working juga berarti menciptakan berbagai area kerja dalam kantor sehingga karyawan punya kebebasan memilih setting kerja yang paling sesuai dengan tugas yang sedang mereka kerjakan. Ini mulai dari kerja fokus intensif hingga ruang diskusi spontan dan ruang rapat formal.
Bidang Apa Saja yang Cocok?
Seperti disampaikan di depan, tidak semua bidang bisa menerapkan agile working. Secara umum, Perusahaan-perusahaan yang bergerak di teknologi dan produk digital cocok jika diterapkan agile working.
Baca Juga: Jika Punya Pekerjaan Remote dari Luar Negeri, Apakah Penghasilan Kamu Dipotong Pajak?
Misal, perusahaan teknologi dan startup digital atau perusahaan berbasis pengembangan software/produk digital. Perusahaan seperti ini cocok, karena output-nya berbasis produk digital yang mudah diukur dan diiterasi cepat, bukan kehadiran fisik.
Spotify adalah salah satu Perusahaan teknologi digital yang menerapkan agile working, bahkan mereka punya nama “Agile a la Spotify” sebagai ekspresi mereka terhadap agile values and culture.
Lalu perusahaan fintech dan perbankan digital. Agile working cocok diterapkan di perusahaan seperti ini, karena butuh merespons kebutuhan pasar dan peraturan yang berubah cepat.
Selain perusahaan teknologi digital, perusahaan jasa konsultasi, kreatif, dan media juga cocok jika diterapkan model agile working. Ini karena pekerjaan berbasis project dan hasil, bukan jam kerja tetap.
Bagaimana dengan kamu? ***