news

Bos OpenAI Sam Altman Selalu Menulis Pesan dengan Huruf Kecil, Mengapa Ini Tak Boleh Ditiru?

Rabu, 18 Februari 2026 | 20:57 WIB
CEO OpenAI Sam Altman sering menulis pesan dengan huruf kecil semua (lowercase) dan minim tanda baca. (Fortune)

PejuangKantoran.com - Sam Altman, CEO OpenAI yang juga sosok di balik ChatGPT, memang seorang miliarder yang berpengaruh. Namun, gaya komunikasinya sering kali seperti anak muda.

Misalnya aja, dia sering menulis pesan dengan huruf kecil semua (lowercase), minim tanda baca, dan menggunakan nada yang santai banget. Hal ini terungkap dalam pesan internal saat sengketa hukumnya dengan Elon Musk.

Bahkan di momen penting, seperti saat ia sempat diberhentikan dari jabatan CEO pada November 2023, Altman tetap konsisten menggunakan huruf kecil semua saat menulis pesan.

Baca Juga: 'Pelangi di Mars', Wujud Ambisi Produser dan Sutradara Menggarap Film Sci-Fi selama 5 Tahun

Gaya ini sangat kontras dengan petinggi teknologi lainnya, seperti bos Microsoft Satya Nadella, yang tetap menjaga tata bahasa dan struktur kalimat formal.

Altman sendiri mengakui kebiasaan ini. Dia bilang penggunaan huruf kapital mengingatkannya pada masa-masa sekolah.

Namun, apa yang dianggap keunikan pribadi bagi seorang bos besar bisa menjadi jebakan karier buat generasi muda. Para ahli memperingatkan karyawan Gen Z untuk tidak meniru gaya santai ini kalau mau dianggap serius di dunia kerja.

Kesan malas di mata atasan

Bagi banyak manajer, tulisan tanpa huruf kapital bukan sekadar soal gaya, melainkan masalah profesionalisme. Tara Ceranic Salinas, profesor etika bisnis di University of San Diego, mengatakan bahwa tulisan seperti itu memberi kesan ceroboh dan malas.

"Apa susahnya sih menekan tombol shift?" tanyanya.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Kamu Punya Agility Quotient Tinggi? Apa Ciri-cirinya?

Bagi Gen Z, menulis dengan gaya formal atau menggunakan huruf kapital terkadang dirasa terlalu kaku atau formal. Mereka merasa lebih nyaman dengan huruf kecil karena memberikan kesan akrab seperti ngobrol dengan teman dekat.

Masalahnya, rekan kerja atau atasan tidak bisa selalu diperlakukan seperti teman. Komunikasi di kantor menuntut penyesuaian gaya agar tetap ada kesan respek terhadap rekan kerja dan terutama atasan.

Data menunjukkan, hampir enam dari 10 pemberi kerja pernah memecat lulusan baru dari Gen Z. Alasannya beragam, dari kurangnya keterampilan komunikasi hingga masalah profesionalisme.

Meskipun tren bekerja jarak jauh (remote work) mulai menipiskan batas antara gaya bahasa pribadi dan formal di platform seperti Slack atau Teams, standar kerja yang dasar tetap harus dijaga.

Halaman:

Tags

Terkini