PejuangKantoran.com - Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengumumkan melalui akun Instagram-nya, @sandiuno, bahwa ia menerima laporan tentang modus penipuan yang memakai nama, foto, KTP, bahkan suaranya yang dibuat dengan AI.
Dalam postingan pada Minggu (24/5/2026) tersebut, Sandiaga menunjukkan bagaimana penipu menggunakan identitas dirinya dalam program dana bantuan tunai untuk modal usaha senilai Rp100.000.000. Untuk mencairkan dana bantuan tersebut, penerima harus setor dulu Rp375.000.
Untuk meyakinkan calon korbannya, penipu bahkan melampirkan rekaman suara yang mirip suara Sandiaga Uno, agar segera mengirimkan biaya pencairan dana tersebut. Ada pula lampiran "surat izin resmi" dari Polda Metro Jaya, yang memberikan ancaman pasal 31Q KUHP bagi yang menyatakan bantuan itu sebagai penipuan.
Baca Juga: Waspada, Penipu Kini Mengandalkan AI untuk Membuat Penipuan Lowongan Kerja Makin Meyakinkan
“Ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang menipu dan merugikan orang lain menggunakan AI. Bantu bagikan informasi ini ke keluarga, kerabat, dan grup-grup WA ya, agar tidak ada lagi saudara kita yang menjadi korban penipuan,” begitu pesan Sandiaga dalam caption Instagram-nya.
Cara Kerja Penipuan Berbasis AI
Apa yang dialami Sandiaga Uno itu merupakan salah satu contoh voice cloning. Inilah pentingnya memahami tool yang digunakan para penipu agar bisa lebih waspada dengan cara kerja penipuan AI. Berikut di antaranya:
1. Voice cloning (kloning suara)
Riset dari McAfee menemukan, hanya dengan tiga detik contoh suara, orang sudah bisa membuat tiruan suara yang 85% akurat. Teknologi ini sudah mencapai tahap di mana kita tidak bisa lagi membedakan mana suara asli dan mana suara hasil kloning.
Baca Juga: Tanda-tanda Job Scam yang Harus Diwaspadai, dan Cara Menghindari Penipuan Lowongan Kerja
2. Video deepfake
Dulu, video deepfake mudah dikenali karena terlihat tidak alami atau gambarnya sering berbayang. Sekarang, teknologi ini sudah berevolusi menjadi avatar yang interaktif secara real-time.
Hal ini mengingatkan pada kasus Arup di Hong Kong (2024), di mana penipu berhasil mengelabui karyawan dengan meniru wajah dan suara Direktur Keuangan Arup yang asli untuk mengirimkan dana Rp400 miliar. Ini bukti nyata betapa bahayanya teknologi ini jika disalahgunakan.
3. Phishing dengan LLM