Mengapa Stres Bisa Membuat Perut Tak Nyaman? Ini Penjelasannya

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 26 Mei 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi sakit perut
Ilustrasi sakit perut

PejuangKantoran.com - Pernah merasa perut mendadak mulas, kembung, atau mual saat sedang banyak pikiran? Ternyata kondisi tersebut bukan sekadar perasaan. Para ahli menjelaskan bahwa stres memang memiliki hubungan erat dengan sistem pencernaan dan dapat memicu berbagai gangguan pada perut.

Secara medis, otak dan usus terhubung melalui jaringan saraf yang dikenal sebagai gut-brain axis atau sumbu otak-usus. Karena hubungan inilah, tekanan emosional dapat langsung memengaruhi cara kerja lambung dan usus. Bahkan, sistem saraf di saluran cerna sering dijuluki sebagai “otak kedua” tubuh manusia.

Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin sebagai bagian dari respons “fight or flight”. Hormon-hormon ini membuat tubuh berada dalam mode siaga, termasuk memengaruhi sistem pencernaan. Akibatnya, gerakan usus bisa menjadi terlalu cepat atau justru melambat, sehingga muncul gejala seperti sakit perut, diare, sembelit, hingga perut terasa begah.

Baca Juga: Meski Terbebani Kesuksesan Film Pertama, Bayu Skak Pede dengan Pesan 'Sekawan Limo 2: Gunung Klawih'

Selain itu, stres juga dapat meningkatkan produksi asam lambung. Inilah sebabnya banyak orang mengalami maag kambuh, nyeri ulu hati, atau sensasi panas di dada ketika sedang cemas atau tertekan. Pada sebagian orang, stres bahkan bisa memperburuk kondisi gangguan pencernaan yang sudah ada sebelumnya seperti GERD atau irritable bowel syndrome (IBS).

Para ahli juga menjelaskan bahwa tekanan emosional membuat saraf di saluran cerna menjadi lebih sensitif. Akibatnya, rasa tidak nyaman di perut terasa lebih intens dibanding biasanya. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang mengalami kram atau nyeri perut cukup hebat meski tidak ada gangguan fisik serius pada organ pencernaannya.

Tidak hanya memengaruhi gerakan usus, stres juga dapat mengubah keseimbangan bakteri baik dalam sistem pencernaan. Ketidakseimbangan mikrobioma usus ini bisa memicu kembung, mual, hingga gangguan pencernaan lainnya.

Baca Juga: Phil Collins Tolak Tampil di Rock & Roll Hall of Fame 2026 karena Kondisi Fisik

Di sisi lain, kondisi emosional juga sering memengaruhi kebiasaan makan. Ada orang yang makan berlebihan saat stres, tetapi ada juga yang kehilangan nafsu makan. Pola makan yang berubah drastis tersebut akhirnya turut memperburuk kondisi lambung dan usus. Konsumsi kafein, makanan pedas, atau makanan tinggi lemak saat stres juga dapat memperparah gejala pada perut.

Karena itu, mengatasi gangguan perut akibat stres tidak cukup hanya dengan minum obat lambung. Para ahli menyarankan pentingnya mengelola stres melalui tidur cukup, olahraga ringan, latihan pernapasan, meditasi, hingga menjaga pola makan sehat agar sistem pencernaan tetap stabil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X