"Model AI ini belajar dengan cara melihat orang-orang yang sangat cerdas melakukan pekerjaannya. Rata-rata kecerdasan orang-orang di perusahaan ini jauh lebih tinggi daripada rata-rata kelompok orang yang biasa Anda tugaskan untuk melakukan sesuatu," ungkap Zuckerberg dalam rapat internal.
Masalahnya, program mata-mata ini diluncurkan lewat postingan internal yang sengaja dibuat tidak mencolok, bahkan karyawan tidak bisa menolak (opt-out).
Setelah diprotes keras oleh lebih dari 1.600 karyawan karena dianggap melanggar privasi, Zuckerberg akhirnya terpaksa menyetop program ini pada bulan Juni lalu.
Baca Juga: Kalau Si Morning Person Satu Tim sama Si Night Owl, Bagaimana Cara Mereka Bekerja Sama?
Kejar-kejaran dengan waktu kontrak
Sekarang, para pengacara korban lagi berjuang keras meminta pengadilan untuk membekukan proses PHK massal ini sebelum resmi berlaku pada 22 Juli nanti. Mereka menuntut audit independen agar tahu kenapa sistem AI Meta sangat hobi mengincar orang-orang yang sedang cuti.
Karyawan Meta yang jadi korban juga meminta agar identitas mereka dirahasiakan karena takut ada aksi balas dendam dari perusahaan. Skenarionya bakal makin runyam kalau PHK ini sampai ketuk palu.
Efek domino yang ditanggung karyawan sangat berat, dari kehilangan asuransi kesehatan di tengah masa pemulihan pascamelahirkan atau pengobatan aktif, hilangnya hak saham perusahaan, sampai urusan deportasi karena masalah visa imigrasi.
Bayangkan jika ibu yang baru melahirkan terkena PHK salah alamat kayak gini, apa nggak jadi baby blues bahkan depresi tuh?