PejuangKantoran.com - Banyak influencer, artis, atau tokoh terkenal di Twitter yang kehilangan centang biru yang membantu memverifikasi identitas mereka.
Padahal centang biru itulah yang membedakan mereka dari penipu di platform media sosial milik Elon Musk tersebut.
Setelah melakukan beberapa kesalahan awal, Twitter mulai menepati janjinya pada hari Kamis (20/4/2023) untuk menghapus centang biru dari akun yang tidak membayar biaya bulanan untuk mempertahankannya.
Baca Juga: Twitter Ganti Nama, Bergabung dalam X Corp
Ada sekitar 300.000 akun verifikasi yang dimiliki Twitter di bawah sistem pemeriksaan biru asli, dan banyak dari mereka adalah jurnalis, atlet, dan tokoh masyarakat.
Centang biru, yang berarti itu akun verifikasi Twitter, pun mulai menghilang dari profil pengguna mereka Kamis lalu.
Pengguna terkenal yang kehilangan centang biru mereka pada Kamis termasuk Beyoncé, Paus Fransiskus, Oprah Winfrey, dan mantan Presiden Donald Trump.
Di Indonesia, beberapa akun yang kehilangan centang biru adalah akun Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Perubahan itu juga terlihat di akun Twitter untuk beberapa jurnalis influencer, seperti reporter LA Times Matt Pearce, yang logo verifikasinya terkadang menghilang lalu muncul kembali saat halaman di-refresh.
Bayar bulanan
Dulunya, tujuan sistem verifikasi Twitter adalah untuk memastikan bahwa akun dari individu dan organisasi terkenal yang membuat konten ke platform media sosial benar-benar dijalankan oleh individu dan organisasi tersebut.
Ke depan, cara utama untuk menjadi akun yang diverifikasi adalah dengan berlangganan Twitter Blue. Pengguna perorangan yang mau akunnya centang biru, biayanya 8 dollar per bulan.
Untuk organisasi biaya langganan centang biru mulai 1.000 dollar per bulan, ditambah 50 dollar per bulan untuk setiap akun afiliasi atau karyawan.
Baca Juga: Buat Saingi ChatGPT dan Bard, Elon Musk Akan Meluncurkan Perusahaan AI
Pengusaha eksentrik ini memang sudah lama menyatakan ketidaksukaannya terhadap sistem verifikasi lama, menyebutnya "omong kosong", "korup", juga "sistem tuan dan petani".