• Sekolah atau pekerjaan baru. Memasuki peran baru di sekolah atau tempat kerja juga bisa memicu imposter syndrome. Contohnya, ketika pindah ke sekolah baru, ada kemungkinan kita merasa tidak diterima oleh komunitas di sana. Hal yang sama juga bisa terjadi di tempat kerja yang baru.
• Kepribadian. Karakter kepribadian tertentu juga sering dihubungkan dengan risiko mengalami imposter syndrome yang lebih tinggi. Antara lain efikasi diri (keyakinan bahwa kemampuanmu bisa mengalahkan situasi apapun) yang rendah, perfeksionisme, dan neurotisisme (insecure, kecemasan, rasa bersalah).
• Kecemasan sosial. Sindrom imposter dan kecemasan sosial bisa tumpeng tindih. Orang yang mengidap kecemasan sosial bisa merasa seolah mereka tidak diterima secara sosial.
Ketika bertemu seseorang, kita merasa cemas orang itu akan mengetahui ketidakmampuanmu. Atau ketika sitaedang presentasi, kita ingin buru-buru selesai sebelum ada yang menyadari bahwa kamu tidak pantas berada di sana.