Pejuangkantoran.com Kamis (19/09) sore, Rupiah ditutup menguat 0,63% ke Rp 15.239 per Dollar Amerika. Selain penguatan Rupiah terbaik sejak Agustus 2024, ini tercatat menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia.
Secara umum, mayoritas mata uang Asia menguat. Yang tercatat naik antara lain Baht Thailand, Peso Filipina, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, Yuan China, Rupee India, Dolar Taiwan, dan Dolar Hongkong.
Namun, beberapa mata uang negara-negara Asia ada juga yang melemah. Tercatat Won Korea Selatan dan Yen Jepang .
Seperti kita tahu, penguatan rupiah ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada Rabu (18/09/2024). Langkah ini mengantisipasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Harapannya, langkah ini diharapkan dapat mendorong perbankan untuk menyesuaikan suku bunga mereka. Ujung-ujungnya permintaan kredit bisa terdorong meningkat dan mempercepat pemulihan ekonomi di masa transisi pemerintahan.
Selain internal, sentimen positif juga datang dari luar. Rabu (18/09) kemarin, Federal Reserve AS memutuskan untuk memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin ke kisaran 4,75%-5,00%.
Langkah The Fed ini berdampak pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk Rupiah. Dampaknya, sebagian mata uang negara berkembang menguat pada Kamis (19/09) ini, seperti disebutkan di atas.
Baca Juga: Rupiah Menguat Di Kamis 19 September 2024 Ini Karena Apa?
Cara Mempertahankan Penguatan Rupiah
Melihat banyak keuntungan dengan menguatnya nilai Rupiah terhadap Dollar Amerika untuk Indonesia, maka sudah sewajarnya kita menjaga penguatan ini.
Bagaimana agar penguatan Rupiah ini terus berlanjut? Berikut hal-hal yang bisa kamu lakukan:
- Membeli/Mengonsumsi Produk Lokal
Dengan membeli/mengonsumsi produk lokal, kamu bisa membantu mengurangi permintaan barang impor. Dengan demikian, dapat mengurangi pengeluaran devisa negara untuk impor.
- Tukar Dolar Dengan Rupiah
Jangan menimbun Dollar untuk kepentingan pribadi dan tukar Dollar-mu dengan Rupiah. Menimbun Dollar menyebabkan permintaan terhadap mata uang asing meningkat. Akibatnya, nilai tukar Rupiah menjadi melemahkan.