Sebaliknya, lebih dari separuh (54%) responden tidak secara aktif berinvestasi, sehingga
berpotensi kehilangan akumulasi kekayaan dan peluang pertumbuhan keuangan. Tren ini
mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti rendahnya literasi keuangan, terbatasnya
akses terhadap peluang investasi, dan preferensi untuk menabung dibandingkan berinvestasi.
Baca Juga: Begini Rasanya Menjadi Awak Kabin di Maskapai UEA dengan Gaji Puluhan Juta Sebulan
Minat yang kuat untuk berinvestasi
Di bidang investasi, survei ini juga menunjukkan bahwa hampir separuh (46%) masyarakat Asia
Tenggara secara aktif menginvestasikan uang mereka, dengan 58% mengalokasikan hingga
20% pendapatan mereka untuk investasi. Namun, 1 dari 5 orang mengadopsi pendekatan ad-
hoc dalam berinvestasi, yang menunjukkan potensi ruang untuk perbaikan dalam strategi
perencanaan keuangan.
Di antara semua negara yang disurvei, masyarakat Singapura merupakan negara terdepan
dalam investasi aktif, dengan 59% menunjukkan bahwa mereka menginvestasikan uang
mereka dibandingkan dengan 46% di seluruh wilayah.
Saham, deposito tetap, dan reksa dana adalah tiga bidang investasi teratas di antara
masyarakat Asia Tenggara, yang terutama didorong oleh keamanan pensiun, pertumbuhan
kekayaan, dan pendapatan rutin. Meskipun minat terhadap investasi sangat besar, banyak
orang yang menyebutkan ketakutan akan kehilangan uang, jangka waktu investasi yang
panjang, dan ketakutan kehilangan peluang sebagai tantangan utama yang mereka hadapi.
Baca Juga: Daftar Bank Bangkrut di 2024, Cek di Sini!
Laporan survei ini juga menemukan bahwa masyarakat Asia Tenggara menunjukkan
keterbukaan terhadap nasihat keuangan profesional, dan 60% menyatakan bahwa hal tersebut
meningkatkan kepercayaan diri mereka. Di antara mereka yang berinvestasi, 49%
mengandalkan penasihat sebagai sumber panduan utama mereka, yang menyoroti pentingnya
wawasan ahli dalam proses pengambilan keputusan keuangan.
Riset yang dilakukan melalui komunitas survei milik Milieu Insight, menawarkan pemahaman
komprehensif tentang perilaku dan sikap keuangan yang umum di kalangan masyarakat Asia
Tenggara. Mewakili populasi orang dewasa online berusia 16 tahun ke atas, penelitian ini
dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2024.