saving

Tarif Trump 32% ke RI Picu Kekhawatiran Investor, Strategi Diversifikasi Disarankan

Jumat, 11 Juli 2025 | 11:10 WIB
Donald Trump setelah mengumumkan kebijakan tarif Impor Amerika Serikat (Foto: Dok. IG whitehouse)

PejuangKantoran.com - Rencana Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor 32% terhadap produk Indonesia telah menimbulkan keresahan di pasar modal. Kebijakan ini diproyeksikan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025, sebagai upaya AS menyeimbangkan defisit perdagangan dengan Indonesia.

Dalam surat resmi kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Trump menyampaikan bahwa tarif tersebut dapat dibatalkan jika kebijakan proteksi ekspor RI, termasuk tarif dan non-tarif, dilonggarkan. Sebaliknya, tarif akan diperluas jika Indonesia merespons dengan kebijakan balasan.

Pengumuman tarif membuat IHSG turun saat pembukaan bursa pada Selasa, 8 Juli. IHSG melemah hingga 0,12% menjadi 6.892 pada pukul 10.13 WIB. Penurunan melanjutkan tren negatif, dengan koreksi total sekitar 4,6% dalam sebulan terakhir.

Pelemahan rupiah juga terjadi di perdagangan spot, terdepresiasi sekitar 33 poin ke Rp16.273 per dolar AS. Investor mulai mengambil sikap wait-and-see, beralih ke aset safer seperti obligasi pemerintah dan korporasi fitur fixed income, yang menawarkan imbal hasil hingga 10%.

Baca Juga: Kelelahan karena Beban Kerja Tambahan Bisa Membuat Kamu Merasakan Citizenship Fatigue, Apa Itu?

Reksa Dana & Emas sebagai Pelindung Portofolio

Analis Bareksa menyarankan diversifikasi portofolio—mengalihkan sebagian dana ke instrumen reksadana pendapatan tetap atau pasar uang, serta investasi emas sebagai safe haven. Emas menjadi opsi populer karena stabilitas nilai saat tekanan global meningkat.

Strategi dalam Ketidakpastian

Samuel Kesuma dari Manulife Aset Manajemen Indonesia menekankan bahwa ekspos terhadap saham masih bisa dikelola dengan cara memilih emiten yang diuntungkan dari impor AS, seperti perusahaan LNG. Ini dinilai bisa menopang rupiah dan menahan volatilitas pasar.

Guru Besar FEB UI Budi Frensidy menambah bahwa pasar akan lebih tenang dalam jangka panjang, meski sektor ekspor seperti tekstil dan alas kaki berisiko terdampak. Ia menyarankan investor membeli saat harga saham turun karena kepanikan, namun tetap dengan strategi diversifikasi.

Baca Juga: BRI Kembali Jadi Bank Terbaik di Indonesia Versi The Banker, Tembus Peringkat 114 Dunia

 

 

Tags

Terkini