PejuangKantoran.com - Membesarkan anak itu mahal, dan ada masa tertentu di mana biayanya sangat tinggi. Pada masa pra-sekolah, biaya pengasuhan anak dapat menghabiskan sebagian besar gaji orangtua. Ketika anak mulai remaja –di mana penghasilan orangtua sudah semakin meningkat- anak-anak pun mulai punya hobi baru dan butuh gadget dan dana untuk bersosialisasi. Namun pada usia berapakah kebutuhan anak menghabiskan biaya paling tinggi?
Dalam sebuah survei, NatWest Premier menemukan bahwa 23% orangtua memperkirakan kebutuhan anak paling tinggi antara usia 4 - 6 tahun, dan 24% orang mengkhawatirkan biaya pendidikan anak di jenjang yang lebih tinggi. Kemudian, lebih dari separuh (52%) orangtua mengaku -berharap bisa lebih baik mempersiapkan biaya membesarkan anak.
Menurut Raya Susetyo, ibu dua anak remaja, setiap tahap usia anak selalu membutuhkan dana yang cukup besar. Saat anak-anak masih balita, dirinya banyak mengeluarkan uang untuk membeli susu, imunisasi, dan sejenisnya. “Mungkin yang banyak itu setelah mereka remaja. Selain keperluan sekolah, anak-anak mulai mengikuti mode, membeli pernak-pernik idolanya, dan sebagainya,” tuturnya.
Baca Juga: Tips La Ode: Seafood Segar dari Timur Indonesia Tak Perlu Diolah dengan Banyak Bumbu
Ketika anak sulungnya SD, dirinya mengikuti sang suami bertugas di kota kecil di mana biaya hidupnya murah sehingga sangat menghemat pengeluaran. Saat ini, anak laki-lakinya kuliah dan kos di Jakarta, sedangkan anak perempuannya baru masuk SMA dan kos di Bandung.
Menurutnya, anak perempuan lebih banyak pengeluaran untuk fashion. Sewaktu SMP, putrinya ikut kursus modelling dan punya banyak pengeluaran untuk membeli pakaian serta rias wajah dan rambut untuk pemotretan.
“SMA dan kuliah sepertinya yang terbanyak, karena anak-anak juga ikut bimbel. Biaya pergaulan juga meningkat, karena selain uang saku mereka minta lagi untuk nonton bareng teman-teman dan semacamnya,” ujar Raya, yang kini tinggal di kawasan Bekasi.
Baca Juga: Pernikahan Kaesang Erina Bakal Diramaikan Panggung Makanan: Ini Loh Perusahaan Saya, Saya Pamer
Agustina, Arsanti, dan Ronny, juga mengatakan usia kuliah adalah masa-masa yang paling menghabiskan biaya. “Anak saya kuliah di jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharma, biayanya relatif murah. Sekarang melanjutkan S2 Artificial Intelligence di UGM, tidak mahal juga,” tutur Agustina. Tetapi, ia mengeluarkan uang tambahan untuk biaya hidup putranya yang sekolah di kota lain sejak SMA.
Adapun putra Arsanti pernah meminta pindah jurusan kuliah di universitas lain karena merasa tidak cocok. Arsanti pun harus merelakan uang kuliah di kampus yang lama “hangus”. Di luar itu, tentunya semua orangtua harus mengeluarkan untuk uang jajan, pulsa, dan transpor.
Membuat perencanaan
Meskipun tidak selalu memungkinkan bagi setiap orang, Laura Newman, Head of Private Client Advice and Investment di NatWest Premier, menyarankan para orangtua untuk membuat perencanaan sejak awal untuk membiayai kehidupan anak. Contohnya, tabungan untuk kebutuhan jangka pendek, dan investasi untuk kebutuhan jangka panjang.
“Pikirkan ke depan untuk tonggak penting dalam kehidupan anak, ”kata Newman. “Alokasikan uang yang mungkin Anda inginkan untuk peristiwa-peristiwa penting dan khusus dalam kehidupan anak.”
Baca Juga: Kamu Nggak Salah Baca: Dior Luncurkan Kue Jahe Seharga Rp1,3 Jutaan di Harrods
Menyisihkan sejumlah uang sebulan untuk membeli saham menawarkan potensi pertumbuhan yang cukup besar. Kamu akan punya waktu beberapa tahun atau lebih lama untuk menabung.
“Uang ini akan bergulung dari waktu ke waktu, artinya Anda memiliki uang yang sudah diinvestasikan di masa depan, baik itu untuk biaya masa depan yang direncanakan, seperti pendidikan, atau untuk kebutuhan apa pun seperti pelajaran mengemudi untuk ulang tahun ke-17 anak Anda,” jelasnya.