PejuangKantoran.com - Bagi kamu yang sering menonton film di bioskop, mungkin suka keberatan dengan aturan tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar area bioskop.
Soalnya, harga makanan di bioskop mahal, bahkan jika ditotal bisa melebihi harga tiket nonton yang dibayarkan. Kamu merasakannya juga, kan?
Baca Juga: Festival Film Internasional Busan Tayangkan Perdana Gadis Kretek dan 11 Film Indonesia Lainnya
Nah, ternyata aturan tersebut memiliki alasan bisnis yang sangat penting untuk pihak bioskop. Faktanya, bioskop bukanlah sekadar bisnis perfilman, tetapi restoran yang bisa sambil nonton.
Maksudnya bagaimana? Leonard Hartono di akun Instagram-nya, @leonhartono, mengatakan bahwa cuan atau keuntungan bioskop bukan berasal dari tiket nonton.
“Kalau kita pelajari laporan keuangan XXI, segmen bioskop mendapatkan omzet Rp2,7 triliun, dan segmen makanan dapat Rp1.4 triliun alias 61% lawan 33%,” katanya.
Nah, segmen bioskop yang terlihat mendapatkan keuntungan lebih besar itu ternyata rugi Rp93 miliar! Sementara segmen makanan dan minuman justru mengalami keuntungan Rp608 miliar.
“Jadi, bisa dibilang kalau misalnya kamu itu disubsidi buat nonton film karena harga tiket tidak bisa menutupi biaya yang tinggi,” jelasnya lagi.
Itulah mengapa, yang memberikan keuntungan ke pihak bioskop adalah para penonton yang membeli makanan dan minuman saat menonton.
Baca Juga: Puteri Indonesia Yasinta Aurellia Cari Tempat Thrifting Asyik di Jakarta, Ada yang Mau Bantu?
Tidak heran, bioskop menerapkan aturan untuk tidak membawa makanan dan minuman dari luar. Jika itu yang dilakukan mayoritas penonton, tentu bioskop tidak akan mendapatkan keuntungan.
Mengapa harga makanan di bioskop mahal?
Pertanyaannya kemudian, apa yang membuat harga makanan di bioskop mahal?
Makanan merupakan bagian integral dari pengalaman menonton bioskop bagi banyak orang. Namun harga makanan dan minumannya yang selangit bikin orang mengeluh juga. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga di negara lain.
Apa yang membuat makanan di bioskop begitu mahal? Mengapa diperlukan markup sebesar itu?
Artikel Terkait
3 Hal yang Bisa Ditawarkan Perusahaan untuk Merebut Hati Calon Karyawan yang Berpotensi
Terlalu Lama Menunda Menyiapkan Rencana Keuangan untuk Masa Depan bakal Bikin Kamu Nyesel!
Ironis Cara Pandang Kamaruddin Simanjuntak Giring Opini Liar Ke Mantan Suami Kedua Rina Lauwy
Betulkah Mendikbud Nadiem Makarim Menghapus Skripsi sebagai Tugas Akhir Mahasiswa?
Sering Jadi Anak SMA di Sinetron, Bryan Domani Ternyata Tak Pernah Merasakan Masa SMA yang Normal
Ramalan Karir dan Keuangan Bulan September, Waspada Pengeluaran Meningkat Seiring Keuangan Membaik