Jangan Bangga Dulu Kalau Berat Badan Kamu Normal Karena Tetap Berisiko Kena Diabetes Tipe 2 Gara-Gara TOFI!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 8 Juni 2026 | 18:05 WIB
Jangan bangga dulu kalau berat badan kamu normal, ada yang emncam yaitu TOFI (Thins Outside Fat Inside) yang menjadikan risiko Diabetes Tipe 2 meningkat. (Pejuangkantoran.om/Made with Google AI)
Jangan bangga dulu kalau berat badan kamu normal, ada yang emncam yaitu TOFI (Thins Outside Fat Inside) yang menjadikan risiko Diabetes Tipe 2 meningkat. (Pejuangkantoran.om/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Tidak hanya mereka yang obesitas yang berisiko tinggi kena Diabetes Tipe 2, namun mereka yang badannya kurus pun bisa berisiko yang sama. Inilah yang dinamakan TOFI, “Thin Outside, Fat Inside” atau terlihat kurus namun di dalam tubuhnya “gemuk”.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tampak kurus atau memiliki berat badan normal berdasarkan BMI, tetapi sebenarnya memiliki lemak viseral (visceral fat) yang berlebihan di sekitar organ-organ dalam seperti hati, pankreas, dan usus. Lemak ini tidak selalu terlihat dari bentuk tubuh luar.

Umumnya, orang dengan TOFI ini sering merasa sehat hanya karena berat badannya normal. Pada kenyataannya, lemak visceral itu lebih berbahaya daripada lemak di bawah kulit (lemak subkutan, subcutaneous fat).

Lemak visceral yang berlebih dapat meningkatkan risiko aneka penyakit sebagai berikut. :

  • Resistensi insulin,
  • Diabetes tipe 2,
  • Tekanan darah tinggi,
  • Kolesterol tidak sehat,
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah,
  • Sindrom metabolik,
  • Perlemakan hati non-alkoholik (fatty liver).

Baca Juga: Awas, Ini 8 Faktor yang Meningkatkan Risiko Seseorang Terkena Diabetes Tipe 2

Dan inilah bahayanya TOFI karena dia seperti “api dalam sekam”, bahaya yang tak terlihat (sehingga terabaikan), namun bisa meledak sewaktu-waktu. Ini karena umumnya orang akan berprasangka bahwa orang gemuk lah yang lebih rentan dengan aneka risiko di atas.

Indikator dan Penyebab TOFI

Namun tidak semua orang dengan berat badan normal atau orang dengan body mass index (BMI) normal mempunyai TOFI. Ada sejumlah indikator yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah seseorang itu kena TOFI atau tidak, yaitu:

  • Lingkar pinggang meningkat meskipun berat badan normal.
  • Persentase lemak tubuh tinggi.
  • Massa otot rendah.
  • Hasil pemeriksaan menunjukkan trigliserida tinggi, gula darah tinggi, atau resistensi insulin.

Untuk memastikan, pemeriksaan yang lebih akurat menggunakan DEXA scan, CT scan, atau MRI untuk melihat lemak viseral.)

Bagi pekerja kantoran, fenomena TOFI ini cukup relevan karena seseorang dapat memiliki berat badan normal tetapi tetap mengalami penumpukan lemak viseral akibat duduk terlalu lama, kurang latihan kekuatan, dan pola makan yang kurang baik.

Baca Juga: Waspadai 10 Gejala Yang Menunjukkan Kamu Sudah Terdampak Gaya Hidup Mager (Sedentary Lifestyle)

Berikut ini faktor yang sering ditemukan pada orang TOFI yaitu orang yang:

  • kurang aktivitas fisik,
  • massa otot rendah
  • terlalu banyak duduk atau “mager” (sedentary lifestyle),
  • pola makan tinggi gula, makanan ultra-proses, dan karbohidrat olahan,
  • kurang tidur,
  • stres kronis,
  • dan faktor genetik.

Oleh karena itu agar terhindari dari TOFI, maka kita wajib untuk:

  1. Bergerak lebih banyak sepanjang hari, hindari posisi duduk terus-menerus. Luangkan waktu untuk beraktivitas fisik rutin setiap hari meskipun hanya jalan kaki sekitar 30-60 menit.
  2. Lakukan latihan kekuatan (strength training). Ini yang akan membedakan orang kurus sehat dengan yang kena TOFI, sebab massa otot yang yang bertambah bisa meningkatkan sensivitas insulin dan membantu tubuh membakar lemak lebih banyak energi.
  3. Konsumsi protein yang cukup. Protein membantu mempertahankan massa otot. Sumber protein: ikan, telur, tempe, tahu, susu/yogurt, dada ayam, dan kacang-kacangan.
  4. Perbanyak makan serat, sebaba serat akan membantu mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol, keningkatkan rasa kenyang, dan mendukung kesehatan usus.
  5. Kurangi kalori “tersembunyi” dari minuman manis, teh atau kopi dengan banyak gula, cemilan ultra-proses, atau makanan tinggi tepung olahan.
  6. Tidur yang dukup, karena ini bisa membantu mengurangi resistensi insulin, mengurangi peningkatan nafsu makan, dan mengurangi peningkatan lemak visceral.
  7. Kelola stres karena stres kronis dapat meningkatkan hormon kortisol yang berkaitan dengan penumpukan lemak di area perut.
  8. Lakukan pemantauan indikator TOFI dengan tidak hanya melihat berat badan namun juga memperhatikan lingkar pinggang, gula darah puasa, trigliserida, HDL, tekanan darah, HbA1c, dan persentase lemak. Kamu bisa rutin melakukan medical check up.

Jadi, jangan “mager” dengan berdalih berat badan sudah ideal sehingga risiko aneka macam penyakit rendah. Ingat TOFI! ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Wikipedia, Berbagai Sumber, healthooz.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X