PejuangKantoran.com - Kebanyakan orang tahu pusat batik adalah di Pulau Jawa, dari Cirebon, Yogya-Solo, Pekalongan, hingga Madura.
Sedangkan wilayah di luar Jawa yang dikenal memiliki motif batiknya sendiri antara lain Bengkulu, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kota Lubuklinggau di Provinsi Sumatera Selatan ternyata juga memiliki motif batiknya sendiri. Usia batik Lubuklinggau memang masih tergolong muda, yaitu 10 tahun.
Baca Juga: ‘Jatuh Cinta Seperti Di Film-Film’ Dikemas sebagai Film Hitam Putih, Ini Alasan Sang Sutradara
Lahirnya batik Lubuklinggau ini digagas oleh ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan Dekranasda Lubuklinggau, Yetti Oktarina Prana, pada Mei 2013.
Pada awalnya, menurut Yetti Oktarina Prana, batik Lubuklinggau muncul dari keinginan untuk mendapatkan ikon atau simbol yang menjadi penanda kota Lubuklinggau.
“Awalnya ketika Lubuklinggau tidak punya ciri khusus yang bisa dikembangkan untuk oleh-oleh dan kebanggaan warga.
"Mulanya bukan batik (yang saya pikirkan), tetapi tenun. Karena Palembang kan punya songket,” ujar Yetti Oktarina Prana, saat peluncuran buku Batik Durian Lubuklinggau: Memperkaya Khasanah Batik Nusantara di TB Gramedia Matraman, Jakarta, Minggu (15/10/2023).
Namun setelah dipertimbangkan lagi, orang biasanya hanya perlu sehelai kain tenun seumur hidupnya. “Batik itu return-nya lebih cepat. Orang perlu berganti batik berkali-kali tiap tahun,” ujarnya.
Apapun yang dikerjakan, menurut Rina, sapaan akrabnya, muaranya adalah kesejahteraan ekonomi. Maka, dipilihlah batik yang diharapkan akan memberi manfaat bagi masyarakat secepat mungkin.
Seperti batik luar Jawa yang umumnya bermotif flora dan fauna khas daerahnya, begitu pula batik Lubuklinggau. Karena kawasan ini dikenal sebagai daerah penghasil durian, yang variasinya lebih banyak dan musimnya lebih Panjang, diangkatlah durian sebagai motif khas batik Lubuklinggau.
Batik durian Lubuklinggau awalnya muncul dengan motif durian belah. Seiring berjalannya waktu, motif ini berkembang dengan beragam motif, seperti hiasan dedaunan, tidak lagi hanya berbentuk belah durian.
Baca Juga: Coldplay Jual Tiket Konser Tambahan Harga Hanya Rp315.000! Loket.com Langsung Diserbu
Untuk mengembangkan batik dari “from scratch” tentunya butuh perjuangan sendiri. Rina, yang juga istri dari Prana Putra Sohe, Walikota Lubuklinggau, tak punya perajin batik. Untuk itu, Rina harus mengumpulkan orang-orang yang mau dilatih sebagai pembatik.
Kendala klasiknya, tambahnya, adalah biaya. Pemerintah daerah Lubuklinggau bukan termasuk pemerintah yang kaya. Daerah ini menempati ranking ke-5 dengan APBD terendah.
Artikel Terkait
Lowongan Kerja Legal Senior Supervisor di PT Kalbe Farma, buat yang Punya Pengalaman 4 Tahun
Terkait Hari Pangan Sedunia, Pemuda Katolik Sebut Krisis Air Bersih di Wilayah Jakarta Selatan
Jangan Panik Kalau Kamu Ditanya Pertanyaan Tak Masuk Akal saat Wawancara Kerja
Canberra Kekurangan Guru Bahasa Indonesia, UPI Kirim Dosen Muda sebagai Guru Bantu di Adelaide
Brain Teaser Question yang Kerap Ditanyakan Google dan Apple pada Pelamar Saat Wawancara Kerja
Jangan Salah Pilih Teman, Ini 3 Tipe Teman yang Bisa Mempengaruhi Kesuksesan Dirimu