Batik Durian Lubuklinggau: Dokumentasi Perjalanan Mengembangkan Batik “From Scratch"

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 17 Oktober 2023 | 19:47 WIB
Peluncuran buku Batik Durian Lubuklinggau yang ditulis oleh Yetti Oktarina Prana dan Rai Rahman Indra (tengah) untuk merayakan 10 tahun kehadiran batik durian Lubuklinggau. (RCA Media)
Peluncuran buku Batik Durian Lubuklinggau yang ditulis oleh Yetti Oktarina Prana dan Rai Rahman Indra (tengah) untuk merayakan 10 tahun kehadiran batik durian Lubuklinggau. (RCA Media)

Lubuklinggau juga bukan penghasil sumber daya alam. Meskipun begitu, masyarakat kota setingkat kabupaten ini dinilainya cukup mandiri.

“Karena saya tipe orang yang tidak terlalu mengkhawatirkan di depan, saya minta kita buat saja dulu. Kalau biayanya kurang, pelatihan saya pindahkan ke rumah.

“Kalau pemerintah hanya bisa melatih 30 orang, di rumah jadi 50 orang. Biaya konsumsi bisa kita alihkan dengan memasak sendiri di rumah,” tukasnya, menceritakan perjuangan membangun produk batik durian Lubuklinggau ini.

Kegigihan Rina membina sentra batik durian Lubuklinggau ini membuahkan hasil. Dalam perjalanannya selama satu dekade, batik durian Lubuklinggau sudah menjadi kebanggaan warga Lubuklinggau.

Bahkan dalam perkembangannya, batik durian Lubuklinggau sudah berkolaborasi dengan sejumlah desainer dan ditampilkan ke masyarakat luas dengan berpartisipasi dalam pekan mode lokal dan nasional.

Di tingkat internasional, batik durian Lubuklinggau tampil di Milan Fashion Week 2021 berlangsung pada 21-27 September 2021 di Palazzo Visconti, Modrone, Milan, Italia.

Baca Juga: Bali Terpilih sebagai Pulau Terbaik di Asia Versi Conde Nast Readers’ Choice Awards 2023

Maka buku Batik Durian Lubuklinggau: Memperkaya Khasanah Batik Nusantara, yang ditulisnya bersama Rai Rahman Indra, hadir untuk memaparkan perjalanan tersebut. Dari awal digagas pada 2013 hingga mencapai usia 10 tahun pada 2023.

“Literasi batik kita itu sedikit sekali. Kalau kita mencari buku batik, itu tidak banyak. Tiap daerah juga tidak ada yang menulis batik secara khusus.

"Harapannya semoga buku ini bisa membuka mata tiap daerah menggali lagi karya-karya daerahnya,” ujar Rai Rahman Indra dalam kesempatan yang sama.

Semoga buku ini, yang dikemas sebagai coffee table book, menjadi dokumen tertulis yang membuat siapapun yang membacanya akan turut mendalami serta memahami keberadaan batik durian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X