Diperkuat Yudi Datau sebagai DoP, bakal Seseram Apa Film Bayang-Bayang Anak Jahanam?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 16 Januari 2025 | 08:24 WIB
Bayang Bayang Anak Jahanam antara lain diperkuat oleh Yudi Datau sebagai penata kamera. (Anami Films)
Bayang Bayang Anak Jahanam antara lain diperkuat oleh Yudi Datau sebagai penata kamera. (Anami Films)

PejuangKantoran.com - Film Bayang-Bayang Anak Jahanam melibatkan beberapa nama sineas yang cukup menakjubkan karena rata-rata telah memenangkan banyak Piala Citra.

Sebut saja Abel Hurray, pemenang Piala Citra Kategori Scoring Orisinal Terbaik; Rahabi Mandra, pemenang kategori Skenario Adaptasi Terbaik; dan Yudi Datau, peraih 4 Piala Citra kategori Pengarah Sinematografi.

Kontribusi Yudi Datau di film ini tak dipungkiri menjadi highlight karena banyak sekali adegan film yang menampilkan warna-warna estetik yang berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia.

Baca Juga: Ngemil Usai Aktivitas Lari? Boleh Banget, Namun Ikuti Saran dari Sport Nutritionist Ini

Selain itu juga adegan-adegan ekstrim seperti mobil yang jatuh ke jurang, hingga adegan ledakan di karnaval dan minimarket.

Bayang-Bayang Anak Jahanam ini genre-nya horor. Menurut saya, horor itu adalah perpaduan kecemasan dan ketakutan. (Jadi kita) Memainkan perasaan manusia tentang ketakutan dan kecemasan.

“Itu yang dicoba di-approach dari segi sinematografi film, mulai dari cahaya, kontras, gerakan kamera, dan elemen-elemen lainnya,” ujar Yudi Datau, Director of Photography/DoP alias Penata Kamera Bayang-Bayang Anak Jahanam, saat konferensi pers di CGV Grand Indonesia, Senin (13/1/2024).

Menurutnya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana cerita ini bisa relate di masyarakat. Ia pun melakukan riset tentang bagaimana ketika cinta itu bisa berdampingan dengan keputusasaan manusia.

“Ketika putus asa, ada orang yang memilih jalan lain yang dekat dengan dunia magis,” terangnya.

Satu hal yang agak disayangkan dari film berdurasi 78 menit ini adalah alur ceritanya yang kurang digarap mendalam. Perpindahan dari satu babak ke babak berikutnya terasa seperti tidak berkesinambungan.

Baca Juga: Tiga Perusahaan Asing Terlibat dalam Pengembangan Coretax DJP, Salah Satunya Pernah Terkait Kasus Manipulasi Pajak

Minimnya dialog dan konflik yang dipaparkan kurang detail sehingga penonton dibuat bertanya-tanya mengapa respons karakter A seperti ini, mengapa karakter B melakukan itu, hingga mengapa ending dibuat seperti itu.

Namun, ternyata fokus Anami Films sebagai rumah produksinya adalah kualitas produksi yang baik.

“Secara premis, sederhana. Bagaimana jika anak kita benar-benar anak jahanam? Apakah misalnya sebagai orang tua, kita akan tetap menyayanginya?

“Anami Films mungkin tidak akan memproduksi banyak film. Namun, setiap film akan diproduksi dengan tingkat paling maksimal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X