Ini Alasan Sutradara Robert Ronny Angkat Kisah tentang Pejuang IVF Meutya Hafid ke Layar Lebar

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 23 Januari 2025 | 08:57 WIB
Sejumlah pemain Lyora: Penantian Buah Hati siap untuk segera memasuki masa produksi di bawah arahan sutradara Robert Ronny. (Paragon Pictures)
Sejumlah pemain Lyora: Penantian Buah Hati siap untuk segera memasuki masa produksi di bawah arahan sutradara Robert Ronny. (Paragon Pictures)

PejuangKantoran.com - Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment mengumumkan akan mengangkat novel berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti karya Fenty Effendy ke film layar lebar dengan judul Lyora: Penantian Buah Hati.

Kisah ini diangkat dari kisah nyata Meutya Hafid bersama suami, Fajrie, yang berjuang untuk mendapatkan anak melalui proses bayi tabung.

Meutya, mantan presenter MetroTV yang kini menjadi Menteri Komunikasi dan Digital, sempat mengalami tiga kali keguguran dalam satu tahun. Perjuangan pasangan ini membuahkan hasil ketika Meutya berusia 44 tahun.

Baca Juga: Lowongan Kerja: Social Media & Digital Marketing Specialist di Apical

Lyora: Penantian Buah Hati akan menjadi film yang mengisahkan tentang penantian, keajaiban, dan perjuangan mental seorang wanita yang luar biasa kuat.

Robert Ronny, produser Paragon Pictures, awalnya sering mendengar cerita tentang perjuangan pasangan tersebut melalui istrinya yang kebetulan sahabat Meutya sejak di Metro TV.

Namun, ia tidak langsung berminat untuk mengangkatnya ke film. Setiap kali Meutya bercerita, ia selalu menangis. Namun, ia berubah pikiran setelah membaca novel yang dibagikan di hari ulang tahun pertama sang anak, Lyora.

Buku memoir itu dibagikan kepada semua tamu yang hadir saat pesta ulang tahun pertama Lyora. Buku ini tidak dijual ke publik, dan hanya dibagikan di antara teman-teman terdekat Meutya Hafid sebagai inspirasi dan kenang-kenangan.

“Tetapi buku itu ternyata beredar luas, sampai dipajang di banyak rumah sakit yang mempunyai program IVF,” papar sutradara yang akrab disapa Robron ini saat konferensi pers di International Design School Kemang, Jakarta, Jumat (17/1/2025).

“Meutya juga kemudian sering diundang sebagai pembicara untuk membagikan perjuangannya mendapatkan anak melalui proses IVF ini.”

Baca Juga: Layanan Keuangan bagi Pekerja Migran Semakin Mudah berkat Jaringan Global BRI yang Luas

Dari situ, Robron menyadari bahwa isu fertilitas di Indonesia sebenarnya cukup serius. Gangguan reproduksi ini menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk hamil.

Stigma negatif

Dari riset yang ia dapat, ternyata 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami infertilitas. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, di Indonesia ada 10-15 persen atau 4-6 juta pasangan dari 39,8 juta pasangan usia subur yang mengalami infertilitas.

Hal ini diperparah dengan stigma negatif di Indonesia mengenai perempuan yang tidak bisa mempunyai anak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X