3 Fakta Menarik tentang Pengepungan Di Bukit Duri, Film tentang Chaos di dalam Sekolah

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 3 Februari 2025 | 08:35 WIB
Film Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar mengisahkan tentang chaos yang terjadi di dalam sekolah. (IMDb)
Film Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar mengisahkan tentang chaos yang terjadi di dalam sekolah. (IMDb)

Dari sudut pandang Joko Anwar, Nuansa Bening dipilih menjadi lagu soundtrack karena liriknya sangat mewakili apa yang ingin disampaikan di film.

“Karena akar dari semua permasalahan dimulai dari yang paling kecil, yaitu komunikasi yang tersumbat,” ujar sutradara yang kerap dipanggil Jokan ini.

“Lagu Nuansa Bening sebenarnya sangat simpel tapi sangat dalam karena bisa langsung strike ke hati. Bahwa lagu ini tentang orang yang mencoba membangun sebuah komunikasi!”

Baca Juga: Peraih Nobel Ekonomi Paul Romer sebut UMKM Butuh Ekosistem Kuat, dan Ini Sejalan Dengan Inisiatif BRI

2. Keponakan Joe Taslim lolos kasting

Jika melihat dari daftar pemain muda yang terlibat, banyak dari mereka yang ternyata anak para aktor, atau pernah bekerja sebagai aktor.

Sebut saja Satine Zaneta yang ternyata putri Abimana Aryasatya, Fatih Unru putra (alm) Yayu Unru, Dewa Dayana anak Gusti Randa, dan Faris Fadjar dari Cecep Arif Rahman (aktor laga).

Yang membuat debut aktingnya di film ini adalah Milo Taslim yang ternyata keponakan Joe Taslim.

Namun, dengan tegas Jokan mengatakan bahwa pengkastingan Milo bukan merupakan nepotisme ataupun memakai jalur orang dalam.

“Tidak ada hubungannya dengan saya kenal atau tidak dengan pamannya. Milo murni lolos audisi. Dia mengalahkan 32 kandidat lain.

Baca Juga: 8 Ciri Orang yang Lebih Baik Melajang daripada Punya Pacar, Mungkin Kamu Salah Satunya!

“Setelahnya saya baru tahu kalau dia keponakan Joe Taslim dan ternyata dia juga atlet judo,” terang Jokan.

3. Menciptakan semesta dengan setting tata kota Jakarta

Jika menilik dari tema kekerasan di sekolah, sebenarnya tema-tema ini banyak ditemui di film-film Jepang. Namun, Jokan tidak mau mengambil film-film luar sebagai referensi. Ia mencoba menciptakan satu semesta sendiri dengan apa yang ada di Indonesia.

“Kita tidak melihat dari film-film Jepang. Referensi kami diambil dari realitas di Indonesia seperti kereta, kita kasih nama JRT, bukan MRT tapi mengadaptasi dari situasi di Indonesia. Hanya saja, kondisinya yang lebih kacau!”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X