PejuangKantoran.com – Pada masa libur long weekend pekan lalu, kepadatan lalu lintas tampak di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek. Sampai-sampai, petugas harus memperpanjang rekayasa lalu lintas contraflow satu lajur dari KM 65 sampai KM 47.
Peristiwa selama masa libur Imlek 2025 tersebut tak lepas dari pengamatan Profesor Rhenald Kasali. Ia menilai masyarakat kini mencari hiburan yang terjangkau untuk berekreasi. Terbukti, tempat-tempat hiburan dipenuhi pengunjung hingga menyebabkan kemacetan.
"Libur panjang, jalanan macet kembali, dan hari libur tahun ini diperkirakan lebih dari 100 hari dalam setahun, banyak libur ditambah sabtu minggu," tulisnya di akun Instagram @rhenald.kasali, Rabu (29/1/2025).
Padahal, kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini diwarnai penurunan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja alias PHK.
"Kenapa jalan tetap ramai? Padahal, banyak yang mengatakan daya beli turun, jumlah kelas menengah berkurang, pengangguran banyak, orang kena PHK banyak," tutur Rhenald.
Guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menyebut, umumnya masyarakat mencari kemewahan untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang terjangkau, yakni melakukan aktivitas liburan.
"Masyarakat selalu mencari kemewahan bagi dirinya, untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang dicari adalah semakin yang terjangkau, liburan," terangnya.
Daya beli turun tapi penjualan meningkat
Fenomena itu, menurut Rhenald, kerap disebut dengan istilah “Lipstick Effect”, yang mengacu pada kondisi perubahan gaya konsumsi masyarakat dalam kondisi ekonomi tertentu.
Baca Juga: Tak Mudah Jadi Pemimpin Rapat, Ini 9 Cara Agar Bisa Mengakhiri Rapat dengan Sukses dan Efektif
Istilah “Lipstick Effect” pertama kali dicetuskan oleh Chairman Emeritus The Estee Lauder Companies Inc Leonard Lauder saat tragedi 9/11 di Amerika Serikat (AS).
Saat itu, daya beli masyarakat turun dan membuat mereka sulit mencari pekerjaan, namun Lauder melihat keanehan terhadap penjualan lipstik yang justru meningkat.
"Jadi, terjadilah efek yang disebut sebagai kemewahan yang terjangkau, dan lipstick adalah satu kemewahan yang harganya tidak terlalu mahal. Lalu juga skincare, itu terbukti banyak laku ketika terjadi COVID-19," terang Rhenald.
Mitigasi risiko penurunan daya beli
Artikel Terkait
Agar Masa Depan Lebih Mapan meski Gaji Pas-pasan, Lakukan Perencanaan Keuangan Ini Sejak Umur 20-an
Kamu Bisa Lihat Tanda-tanda Lingkungan Kerja yang Toxic sejak Wawancara Kerja, Ini Caranya!
Yuk, Kerja Remote dari Selandia Baru! Pemerintah Terapkan Visa Digital Nomad untuk Pekerja Asing
7 Alasan Generasi Muda Tidak Tertarik Jadi 'Budak Korporat', Salah Satunya Gaji Tak Sepadan
5 Langkah bagi Manajer Dalam Mengenal Kepribadian Anggota Tim Supaya Tim Menjadi Produktif
8 Keterampilan Sekretaris yang Harus Sebaiknya Dimiliki, Meski Itu Bukan Pekerjaan Kamu!
Konser Gratis Bernadya, Juicy Luicy, hingga Sal Priadi Hibur Ribuan Penonton di BRI UMKM EXPO(RT) 2025