Dikemas dengan Format 4:3, Film Perang Kota Garapan Mouly Surya Jadi Terasa Lebih Intim

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 24 April 2025 | 22:05 WIB
Perang Kota, yang dibintangi Chicco Jerikho dan Ariel Tatum, akan siap tayang 30 April 2025. (Instagram @cinesurya)
Perang Kota, yang dibintangi Chicco Jerikho dan Ariel Tatum, akan siap tayang 30 April 2025. (Instagram @cinesurya)

PejuangKantoran.comPerang Kota, film yang diadaptasi dari novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis, menghadirkan kisah cinta segitiga di tengah kekacauan perang di Jakarta pada tahun 1946.

Tema besar film persembahan Cinesurya, Starvision, dan Kaninga Pictures ini adalah cinta, perjuangan dan pengkhianatan. Sutradara Mouly Surya membawa penonton ke dalam mesin waktu saat Jakarta telah menyatakan kemerdekaan.

Jepang sudah angkat kaki, namun Belanda mencoba menginvasi kembali pada tahun 1946.

Baca Juga: Di Balik Pembuatan Film Perang Kota, Apa yang Bikin Jerome Kurnia Sok Jual Mahal?

“Saya ingin membuat Jakarta di tahun 1946, kebayangnya seperti ketika saya ke Amsterdam. Ada kanal-kanal dan kali-kali.

"Kenapa setting-nya seperti ini karena saya ingin membuat film yang klasik kayak Casablanca. Zaman perang tetapi kisah cinta,” ungkap sutradara Mouly Surya di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (21/4/2025).

Untuk bisa fokus pada konflik batin dan keresahan tiga tokoh utamanya, Guru Isa (Chicco Jerikho), Ariel Tatum (Fatimah), dan Hazil (Jerome Kurnia), Mouly dan sinematografer Roy Lolang sengaja memilih format film 4:3.

“Dengan format 4:3, gambar yang ditampilkan bisa lebih otentik, lebih intim, lebih dekat. Dari sinematografi, sisi penceritaannya bisa seperti point of view orang ketiga yang lagi mengintip karena formatnya tidak selebar ukuran rasio yang lain,” terang Roy Lolang.

Sebagai film yang fokus pada dinamika relasi dari tiga karakternya, rasio ini sukses menampilkan ekspresi pemain dalam setiap pergolakan batin mereka.

Bahkan pada adegan-adegan ranjang antara Isa dan Fatimah, atau antara Fatimah dan Hazil, gambar-gambar tetap artistik, tidak menjadi sensual.

Baca Juga: Digarap Keroyokan 7 Negara, Perang Kota Mengangkat Kisah Cinta dengan Setting Jakarta Tahun 1946

“Memang di skrip digambarkan ada hubungan suami istri antara Isa dan Fatimah atau dengan Hazil. Itu sebabnya ada workshop-nya.

"Adegan intimacy itu kayak adegan lainnya. Ada koreografinya, ada hitungannya. Misalnya ketika shot kamera menghadap samping, ada tekniknya dan bagaimananya,” terang Chicco Jerikho.

Sebagai film Indonesia, kolaborasi Mouly Surya dengan kru-kru internasional membuat feel keseluruhan Perang Kota berbeda dengan kebanyakan film Indonesia yang beredar.

Yang paling menonjol adalah kualitas suara film yang dikerjakan oleh rumah produksi Perancis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X