Legenda Kelam Malin Kundang, ketika Cerita Rakyat Diinterpretasi Jadi Film Thriller Psikologis yang Mencekam

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 20 November 2025 | 21:58 WIB
Come and See Pictures membuat interpretasi ulang cerita rakyat untuk film Legenda Kelam Malin Kundang.  (Instagram @jokoanwar)
Come and See Pictures membuat interpretasi ulang cerita rakyat untuk film Legenda Kelam Malin Kundang. (Instagram @jokoanwar)

PejuangKantoran.com - Kisah tentang Malin Kundang, anak durhaka yang tak mau mengakui ibunya sehingga dikutuk menjadi batu, boleh dibilang sudah menjadi legenda yang melekat dalam benak siapa saja.

Selama ini kita mungkin menerima mentah-mentah cerita yang disampaikan di ruang kelas itu. Tidak terpikir oleh kita untuk mengulik lebih jauh apa yang membuat Malin Kundang malu mengakui Mande Rubayah sebagai ibunya. Benarkah hanya karena ibunya miskin?

Cerita ini jadi menarik ketika dikembangkan lebih jauh dengan setting masa kini. Adalah Joko Anwar dan Tia Hasibuan, yang melalui rumah produksi mereka -Come and See Pictures-  menginterpretasi ulang cerita Malin Kundang menjadi kisah yang lebih kompleks.

Baca Juga: 'Legenda Kelam Malin Kundang' Jadi Upaya Joko Anwar Dekonstruksi Ulang Kisah Aslinya agar Lebih Relate

Film Legenda Kelam Malin Kundang ini mengangkat sosok Alif (Rio Dewanto), seniman micro painting yang sedang memulihkan diri dari kecelakaan yang membuatnya amnesia.

Alif ingat istri dan anaknya, Nadine (Faradina Mufti) dan Emir (Jordan Omar), tetapi bingung mengapa Nadine kerap bersikap dingin padanya.

Suatu hari datanglah ibunda Alif, Amak (Vonny Anggraini) ke rumah mereka. Alif tak menyangka ketika Nadine mengatakan ia belum pernah sekalipun bertemu Amak. Diam-diam, Alif menyimpan kegelisahan lain: ia tak mampu mengingat bagaimana rupa ibundanya.

Siapa sangka, di antara karya-karya micro painting dan gambar-gambar yang disimpan di tempat tersembunyi di rumahnya, perlahan-lahan masa lalu Alif mulai terkuak. Masa lalu tersebut menyimpan rahasia kelam yang dulu dikuburnya dalam-dalam.

“Bisa dibilang Malin Kundang adalah memori kolektif dari kita semua, tapi mungkin yang jarang kita tanyakan adalah, sebenarnya dari sudut pandang siapa sih cerita ini disampaikan?

“Nah, film ini bercerita tentang luka dan trauma yang diwariskan, bercerita tentang kegagalan memahami di dalam hubungan keluarga.

Baca Juga: Joko Anwar Gandeng Dua Sutradara Baru untuk Garap Film Terbarunya, Legenda Kelam Malin Kundang

“Kami berharap semoga film ini bisa menjadi pembuka untuk obrolan tentang trauma dan luka-luka itu, baik kita dengan keluarga kita ataupun kita dengan orang-orang di sekeliling kita,” ujar Tia Hasibuan, saat konferensi pers film Legenda Kelam Malin Kundang di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (17/11/2025).

Ketika seorang anak dianggap durhaka, apa yang sebenarnya membuatnya jadi durhaka? Apakah murni dari perilakunya, ataukah ada andil dari orang tua yang membuatnya begitu?

Tim penulis skenario film ini, yaitu sutradara Rafki Hidayat, Joko Anwar, dan Aline Djayasukmana, ingin menyampaikan pada penonton, setiap orang pasti punya andil dalam membuat suatu hubungan jadi tidak berjalan dengan baik.

Hal ini salah satunya diperlihatkan dalam adegan ketika Alif menyadari ketegangan yang selalu ditunjukkan Nadine. Alif merasa mungkin hal itu dipicu oleh sikapnya di masa lalu sehingga sang istri menjaga jarak darinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X