PejuangKantoran.com - Sebelum diputar di Indonesia, film Para Perasuk telah melakukan world premiere di Sundance Film Festival, 24 Januari yang lalu. Setelah pemutaran perdana tersebut, masih dalam rangkaian Sundance, film ditayangkan 5 kali di bioskop berbeda.
Yang menyenangkan adalah respons positif para penonton internasional selama pemutaran film di Sundance. Bahkan, saat world premiere, film garapan sutradara Wregas Bhanuteja itu mendapatkan standing ovation.
Ternyata kehadiran film Para Perasuk di untuk penonton luar tidak berhenti di Sundance. Wregas mengumumkan bahwa film ini akan terus melanglang buana di beberapa festival film internasional.
Baca Juga: 5 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Kecil yang Bisa Jadi Lompatan Besar buat Karier Kamu
Sedikitnya ada enam festival yang akan memutarkan film yang dibintangi oleh Maudy Ayunda, Angga Yunanda, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, Ganindra Bimo, dan Anggun ini. Bahkan, ada yang ikut berkompetisi dengan film negara lain.
“Akan ada enam festival film lagi yang mengantri, tetapi belum bisa kita announce karena ada yang sifatnya baru boleh diumumkan setelah pihak festival secara resmi mengeluarkan pengumuman,” ungkap Wregas, saat ditemui di PIC Creative Space, Casablanca, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Yang jelas, film yang antara lain diproduseri Cinta Laura Kiehl ini akan diputar di Fantaspoa (Festival Internacional de Cinema Fantástico de Porto Alegre) di Brasil.
Sesuai namanya, Fantaspoa adalah festival film yang berfokus pada pemutaran film-film ber-genre fanfasi. Selain itu, Para Perasuk tidak hanya ditayangkan tetapi juga akan berkompetisi.
Melalui akun Instagram-nya pada Kamis (12/3/2026), Wregas juga mengumumkan bahwa Para Perasuk juga akan diputar di Miami Film Festival ke-43 pada pertengahan April nanti. Film juga akan berkompetisi dalam program Marimbas Award.
Sebagai sutradara, Wregas merasakan pentingnya sebuah karya ditonton lebih banyak orang, tidak hanya di Indonesia. Itu sebabnya karya-karyanya selalu dibawa mengikuti festival film internasional.
Baca Juga: Mengenal Clockify, Tool Andalan Freelancer atau Pekerja Remote yang Kerjanya Dibayar Per Jam
Debut film panjangnya, Penyalin Cahaya, ia kirimkan ke Busan Film Festival. Sedangkan film Budi Pekerti, sebelum tayang di Indonesia, sudah diputar lebih dulu di Toronto Film Festival.
“Kita percaya film itu semakin besar yang nonton, semakin luas pesannya tersampaikan. Tidak hanya untuk Indonesia, kita bisa ngomongin apa yang ingin disampaikan film seperti tentang keserakahan, obsesi dan ambisi, orang di luar sana pasti relate!” ujarnya.
Keuntungan lainnya memutarkan film-filmnya di kancah internasional adalah untuk membuka koneksi dan memperluas kerja sama ke depannya.
Sutradara kelahiran Jogjakarta, 33 tahun lalu ini mengambil contoh karya sutradara asal Korsel Bong Jun Ho yang menggarap film Parasite.
Artikel Terkait
Batas Waktu Lapor SPT 2026 Berpotensi Diperpanjang, Ini Pertimbangan DJP
Universal Pictures bakal Garap Film Biopik Bon Jovi, Band Legendaris asal New Jersey
Anthropic Rilis 10 Profesi Paling Terpapar AI, tapi Mengapa Hal Ini Tak Perlu Dikhawatirkan?
Lowongan 3 Posisi Manajerial untuk Eiger Adventure Land di Bogor Jawa Barat
Menjilat Atasan, Salah Satu dari 8 Kesalahan yang Sering Terjadi Ketika Kamu Mempraktikkan Managing Up
4 Kesalahan saat Memutuskan Kembali Bekerja usai Rehat Panjang, Pantesan Kamu Jadi Minder!
Daftar Rest Area Tol Trans Jawa Lengkap dengan SPBU, SPKLU, Tempat Makan, Masjid-Musala