Pejuangkantoran.com – Perang antara Amerika-Israel melawan Iran di kawasan Timur Tengah membawa dampak global terkiat dengan bahan bakar minyak, termasuk tentu saja Indonesia.
Ini karena konflik ini membuat lonjakan harga minyak mentah dunia, berpotensi kelangkaan stok, dan memicu kenaikan harga pokok.
Gangguan di Selat Hormuz mengancam pasokan, menekan APBN untuk subsidi, dan berpotensi memaksa kenaikan harga BBM di dalam negeri.
Bahkan, di akhir Maret 2026 ini isu kenaikan harga BBM non-subsidi per 1 April 2026, bertiup kencang di dunia maya.
Pertamina dan ESDM menegaskan belum ada pengumuman resmi dan membantah hoaks lonjakan drastis, namun penyesuaian harga nonsubsidi (5-10%) dimungkinkan. Sementara BBM subsidi (Pertalite dan Solar) dipastikan stabil.
Jika ada kenaikan harga BBM, dampak langsung kepada kita adalah pengeluaran untuk BBM akan meningkat.
Tentu saja ini harus disikapi. Menghemat BBM adalah salah satunya. Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi jadi salah satu jalan keluarnya. Gunakan jika benar-benar perlu.
Namun bagi mereka yang pekerjaannya menuntut mobilitas tinggi, penggunaan kendaraan bermotor pribadi tidak bisa dihindari.
Baca Juga: Sosok Joe Kent, Pejabat Antiterorisme AS yang Resign dan Kritik Perang Iran
Bagi kita yang memang pekerjaannya menuntut seperti ini, salah satu cara yang bisa menghemat BBM adalah cara mengemudi kita, terutama mobil.
Inilah yang dinamakan eco-driving, yaitu teknik mengemudi yang dirancang untuk meminimalkan konsumsi bahan bakar (BBM), emisi, dan keausan kendaraan melalui pengendalian perilaku pengemudi, bukan perubahan pada mesin.
Terlepas dari mobil keluaran baru yang punya fitur hemat BBM, eco-driving adalah keterampilan mendasar untuk hemat BBM.
Seperti kita tahu, di mobil-mobil keluaran baru ada fitur seperti hybrid system, transmisi CVT (Continuously Variable Transmission) yang bisa menjaga putaran mesin di RPM yang paling efisien, adaptive cruise control yang menjaga kecepatan stabil secara otomatis dan menghindari skelerasi-rem berulang, dan sebagainya.
Namun kembali lagi kepada “orang di belakang kemudi”. Eco-driving, menurut sebuah studi dengan tajuk Eco-Driving and Its Impacts on Fuel Efficiency seperti yang dimuat di mdpi.com, menunjukkan bahwa teknik megemudi seperti ini dapat mengurangi konsumsi BBM sekitar 15-25%.
Artikel Terkait
Orang yang FOMO dan Berkepribadian Dark Triad Cenderung Menggunakan Ponsel Saat Mengemudi
Jangan Paksakan Mobil yang Seharusnya Mengonsumsi Bensin RON 92 Diganti Menggunakan RON 90. Ini Akibatnya!
20 Poin Check List Bagi Pemilik Mobil Listrik Agar Tak Rugi Rp200 Juta Seperti Kejadian di Florida
Di-Space, Museum Sains Milik BYD, Ajak Pengunjung Melihat Langsung Masa Depan Mobil Listrik
Harga Minyak Terus Naik, Muncul Wacana WFH dan Pengurangan Hari Kerja untuk Penghematan BBM
Bukan Hanya Terapkan WFH, Para Ekonom Ajukan Sejumlah Saran untuk Menghemat Pemakaian BBM