Film 'Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?' Soroti Fenomena Fatherless dari POV Anak yang Beranjak Dewasa

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Senin, 6 April 2026 | 14:44 WIB
Film "Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?" yang diangkat dari novel karya Khoirul Trian menyoroti fenomena fatherless nation. (IMDb)
Film "Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?" yang diangkat dari novel karya Khoirul Trian menyoroti fenomena fatherless nation. (IMDb)

PejuangKantoran.com - Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? merupakan produksi pertama dari rumah produksi Five Element Pictures. Mengangkat isu fatherless, produser Soemijato Muin mengaku tak kuasa menahan tangis kali pertama menonton konten penulis buku Khoirul Trian di TikTok.

“Entah kenapa saya menangis saat menonton video TikTok Trian. Dari sini, saya bisa merasakan hype-nya yang luar biasa, (konten yang) menyuarakan topik yang tidak pernah disuarakan sebelumnya.

"Yaitu tentang ayah atau dikenal dengan istilah fatherless atau father hunger. Saya langsung menghubungi mas Trian untuk mengambil IP ini dan kita develop untuk dialihvisualkan ke media film,” terang Soemijato, saat gala premiere Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: Karyawan yang Selalu Diawasi saat Bekerja Kini Menemukan Cara Baru untuk Menghindari Stres

Soemijato tidak main-main saat menggarap ceritanya yang menyentuh. Ia merekrut Oka Aurora sebagai penulis skenario, dan Agus Kuntz sebagai sutradara. Kolaborasi keduanya ini bisa dibilang kolaborasi papan atas dari para filmmaker genre drama.

Ketika tahu bukunya akan dialihwahanakan menjadi film, Khoirul Trian mengaku sempat kuatir karena gaya penulisan cerita buku ini tidak bertutur layaknya sebuah cerita novel, melainkan potongan-potongan prosa yang berkaitan dengan tema self-improvement.

Namun, potongan-potongan prosa ini jika dibaca dari awal hingga akhir akan menjadi satu cerita yang berkesinambungan.

“Bagaimana ya, caranya mengalihwahanakan buku saya menjadi bentuk visual? Salah satu contohnya, ada yang hanya kutipan pendek seperti ‘Capek ya, Nak? Sini, peluk'.

"Ternyata di film, bentuk visual menjadi momen menyentuh ketika terlihat sang ayah bersama kedua anaknya, Dira (Mawar de Jongh) dan Darin (Rey Bong), di mobil!” terang Trian.

Sebagai penulis skenario dengan karya-karya luar biasa seperti skenario film Ipar Adalah Maut dan series Layangan Putus, Oka sempat bingung akan konsep cerita dan pendekatannya dalam menuangkan dalam skenario.

Baca Juga: Kandidat Tidak Muncul saat Diundang Wawancara Kerja Makin Sering Terjadi dalam Proses Rekrutmen

“Jujur, di awal saat pengembangan cukup menantang! Cukup sering gonta-ganti konsep sampai saya sendiri bingung ini arahnya mau ke mana.

"Tapi, bersyukur skenario dijahit dengan bagus oleh mas Kuntz. Aku berhutang budi, malah. Saya menyiapkan DNA cerita, mas Kuntz yang meng-crafting. Tantangannya lebih bagaimana menyamakan visi,” seru Oka.

Cerita film akan mengikuti perjalanan Dira dan Darin yang saat tumbuh dewasa menyadari bahwa ayah mereka, Yudi (Dwi Sasono), semakin menjauh.

Sebuah kecelakaan fatal menimpa ibu mereka, Lia (Unique Priscilla), yang selama ini menjadi pencari nafkah utama, menguak banyak rahasia yang sebelumnya disembunyikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X