Film 'Ghost In The Cell' Jadi Refleksi Keresahan Joko Anwar terhadap Situasi Absurd di Indonesia

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Rabu, 15 April 2026 | 15:05 WIB
Sebagai filmmaker, Joko Anwar tidak mau film "Ghost in the Cell" berakhir dengan keputusasaan.
Sebagai filmmaker, Joko Anwar tidak mau film "Ghost in the Cell" berakhir dengan keputusasaan.

PejuangKantoran.com - Come and See Pictures, rumah produksi milik sutradara Joko Anwar, akan segera meluncurkan film Ghost in the Cell pada Kamis, 16 April 2026.

Meskipun judulnya menggunakan kata “ghost”, ternyata ini bukan film horor. Namun, film ini memang menampilkan berbagai adegan gore atau adegan sadis yang berdarah-darah.

Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Joko Anwar dalam film yang diproduseri Tia Hasibuan ini?

Baca Juga: Sinopsis 'Ghost In The Cell', Film Berlatar Penjara Bertabur Aktor Terkenal Garapan Joko Anwar

“Kita coba untuk meng-encapsulate Indonesia dalam cerita Ghost In The Cell ini. Kalau kita mau bicara soal Indonesia, bagaimana bisa merepresentasikannya?

“Satu kata yang keeps popping up adalah absurd. Indonesia sudah saking absurd-nya, kita tidak tahu bagaimana lagi. Korupsi ratusan triliun gitu, kita semua tenang-tenang saja kan?” ujar Joko Anwar, saat pemutaraan perdana Ghost In The Cell di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Ia menambahkan, proses kreatif film ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2018. Ketika sedang mengembangkan ceritanya, ia berharap dari rentang 2018 ke 2025 Indonesia akan membaik.

“Tapi ternyata, enggak ya?” tukasnya.

Privilege untuk kabur

Film berdurasi 1 jam 46 menit ini akhirnya menjadi refleksi dari keresahan Joko Anwar terhadap situasi sosial dan politik di Indonesia, yang menurutnya adalah keresahan kolektif warga negara Indonesia.

Baca Juga: Main Jadi Suami KDRT di Film 'Suamiku, Lukaku', Baim Wong Sempat Bikin Acha Septriasa Shock

Di media sosial, hampir setiap hari pengguna akan terimbas dengan berita-berita yang membuat mereka jengah. Sementara, masalah lainnya adalah rakyat tidak punya teladan. Sehingga, mereka tidak tahu siapa yang bisa dijadikan panutan.

“Memang seperti itu kan cerminan kehidupan kita sebagai warga negara Indonesia. Penjaranya sendiri adalah negara dan semua napi itu adalah WNI, kita sendiri. Kita tidak bisa kabur. Cuma beberapa orang saja yang punya privilege untuk kabur.

“Di film, tokoh seperti itu digambarkan oleh karakter Prakasa (Arswendy Bening Swara/Dewa Dayana). Dia punya privilege bisa keluar masuk penjara.

“Tapi, tidak semua orang Indonesia bisa keluar dari penjara. Not everyone bisa ‘kabur aja dulu’. Kalau kita, most of us, hashtag-nya adalah mau kabur kemana? Karena kita semua ada di penjara!” kilah sutradara berusia 50 tahun itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X