Mayoritas Gunakan Bahasa Minang, Film Onde Mande Jadi Alternatif Di Tengah Serbuan Film Horor

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 19 Mei 2023 | 12:58 WIB
Film Indonesia berjudul Onde Mande 70%-nya menggunakan bahasa Minang.  (Instagram @ondemandefilm)
Film Indonesia berjudul Onde Mande 70%-nya menggunakan bahasa Minang. (Instagram @ondemandefilm)

PejuangKantoran.com - Duet Shenina Cinnamon dan Emir Mahira akan kembali tampil berdua dalam Onde Mande, film ber-genre komedi keluarga dengan latar belakang budaya Minangkabau. Sebelumnya, mereka juga tampil bareng di film Dear David.

Kentalnya unsur kedaerahan dalam film Onde Mande terlihat dari dialog dalam bahasa Minang yang mencapai 70 persen, begitu menurut sutradara Paul Fauzan Agusta.

Baca Juga: Drakor Doctor Cha Jadi Drama Rating Tertinggi ke-4 di JTBC, Kalahkan Itaewon Class

Lalu, teks bahasa Indonesia akan disertakan agar penonton yang tidak mengerti bahasa Minang bisa ikut menikmatinya.

“Kurang lebih 70 persen bahasa Minang, sisanya bahasa Indonesia. Tapi, menurutku, ini tidak akan mengasingkan penonton yang tidak bisa berbahasa Minang,” terang Paul, saat konferensi pers film Onde Mande di Restoran Padang Merdeka, Cipete, Jakarta Selatan, Senin (15/5/2023) lalu.

“Karena penonton kan sudah biasa membaca subtitle bahasa Indonesia dari conversation bahasa Inggris atau Korea ya. Bolehlah kali ini, membaca subtitle untuk bahasa Minang!” tambahnya.

Selain menggunakan bahasa Minang, lokasi pun kebanyakan dilakukan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, dan merekrut aktor serta kru film lokal. Pemain utamanya, seperti Emir Mahira, Shenina Cinnamon, Ajil Ditto, Jajang C. Noer, Jose Rizal Manua, dan Shahabi Sakry, pun direkrut karena memiliki darah Minang.

Onde Mande memang sengaja mengangkat budaya Minang yang, ditambahkan oleh sang sutradara, memiliki nilai kebersamaan dan semangat gotong royong yang kuat.

"Kita mau mengangkat adat, budaya keseharian, budaya gotong royong, ikatan kekeluargaan, dan, tentu makanannya. Jika ditanya alasan mengapa membuat film yang seperti ini, jawabannya sangat personal.

Baca Juga: Penonton Kecewa, Song Hye Kyo dan Han So Hee Batal Main Drama Bareng. Ini Alasannya!

“Kira-kira 12 tahun yang lalu, bapak saya bertanya kapan saya membuat film yang bisa beliau tonton karena kebanyakan film yang saya buat ‘gelap’,” ujar Paul.

Dari situlah ia terpikir untuk membuat cerita tentang desa sang ayah, dan masyakat di kawasan tersebut. Boleh dibilang, Paul menulis cerita dan membuat film ini untuk ayahnya.

Plot film ini memang menampilkan jalan cerita yang ringan namun dengan premis yang kuat. Bercerita tentang Angku Wan (Musra Dahrizal), pensiunan guru yang hidup sebatang kara di desa nelayan di tepi Danau Maninjau.

Angku Wan punya hobi mengikuti sayembara. Suatu ketika, hobinya itu membuahkan hasil. Angku Wan memenangkan sayembara yang diselenggarakan sebuah perusahaan sabun.

Malang, sebelum sempat mengambil hadiah, Angku Wan meninggal dunia. Lalu warga desa yang mengetahui soal hadiah tersebut berusaha menebusnya dengan berbagai macam cara, sekaligus untuk meyakinkan penyelenggara bahwa Angku Wan masih hidup.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X