Baca Juga: Mau Mempermudah Proses Boarding, Fasilitas Face Recognition di Stasiun Bandung Malah Ditolak
Waktu itu, komoditas gula menjadi barang dagangan legit yang mampu menghasilkan cuan banyak ke pundi-pundi penjajah Belanda.
Pulau Jawa, lantas, menjadi sohor sebagai pusat penanaman tebu dan kelapa serta aren, cikal bakal produksi gula.
Krisis ekonomi dunia 1930-an memelorotkan daya beli masyarakat dunia terhadap gula. Alhasil, terjadilah kelimpahan gula di Indonesia.
Andreas Maryoto, dalam penelitian literaturnya menyebut kelimpahan gula itu, ujung-ujungnya, berbuah inovasi baru pada kuliner kecap yang kala itu dikenal bercita rasa asin.
Kata Andreas Maryoto, kecap, sebelumnya, datang ke Indonesia pada sekitar abad ke-16 melalui para pedagang China yang berniaga di kota-kota pelabuhan semisal Banten dan Sunda Kelapa.
Kecap sejatinya merupakan produk fermentasi dari kedelai, gula jawa, garam, dan air.
Nenek moyang kecap adalah liquamen asal kebudayaan Romawi pada abad ke-300 Sebelum Masehi (SM).
Baca Juga: Quiet Ambition, Saat Ambisi Karyawan Sudah Bukan Lagi tentang Gaji Tinggi atau Jabatan
Bahan baku liquamen adalah cuka, merica, dan petis teri melalui proses fermentasi.
Fermentasi adalah proses kimiawi produk pangan dari senyawa kompleks menjadi lebih sederhana berkat bantuan enzim produksi mikroba.
Lebih lanjut, Andreas Maryoto menyatakan bahwa ada tantangan di masa digital saat ini untuk kuliner Indonesia, termasuk kecap.
Melalui teknologi digital, tantangan tersebut adalah menduniakan kuliner Indonesia.
"Kuliner Indonesia juga menjadi bagian dari ketahanan pangan yang harus terus terjaga," pungkas Andreas Maryoto. (Josephus Primus)