senggang

Di Lumbini, Nepal, Peziarah Merayakan Waisak dengan Mengikuti Jejak Masa Kecil Sang Buddha

Rabu, 22 Mei 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi: Pada Hari Raya Waisak, umat Buddha di Lumbini, Nepal, duduk di bawah pohon di tepi kolam untuk bermeditasi. (Unsplash/Tong KBP)

Untuk memahami penderitaan secara utuh, Siddhartha berusaha menimbulkan penderitaan pada dirinya sendiri, dengan berpuasa dalam jangka waktu yang lama, hingga ia hampir kelaparan.

Ia kemudian menyadari bahwa kematiannya tidak akan membantu siapa pun, sehingga membawanya ke jalan yang lebih moderat, jalan antara kemewahan dan kemiskinan, yang disebut Jalan Tengah.

Dipercaya bahwa Siddhartha kemudian menjadi Buddha, atau makhluk tercerahkan, saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya. Di situ ia mengalahkan godaan iblis Mara, sehingga memunculkan agama Buddha.

Baca Juga: Seleksi CASN 2024 Dibuka Juni, Menpan-RB: Jangan Percaya pada yang Menjanjikan Kelulusan

Ziarah rohani

Lumbini telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs Warisan Dunia sebagai tempat paling suci bagi agama Buddha dan agama dunia.

Saat ini di desa kecil seluas 44 kilometer persegi itu terdapat lebih dari 32 biara yang dibuka untuk umum, pusat meditasi, kawasan alam yang damai, dan taman lanskap.

Di kawasan sekitar Lumbini, peziarah bisa mengikuti jejak Sang Buddha saat mengunjungi perkebunan masa kecilnya, melihat kota ibunya, dan berdiri tepat di tempat ia melalui gerbang istana untuk memulai perjalanannya menuju pencerahan.

Para penganut Buddha menggunakan Hari Raya Waisak untuk mempraktikkan perbuatan yang dicontohkan oleh Buddha, seperti membagikan makanan atau melepaskan burung dari penangkaran.

Lumbini merupakan salah satu dari empat situs suci yang menjadi tempat tujuan para peziarah. Tiga situs lainnya adalah Bodh Gaya, tempat Buddha memperoleh pencerahan; Sarnath, tempat ia menyampaikan ajaran pertamanya; dan Kushinagara, lokasi ia meninggal dan mencapai nirwana.

Baca Juga: Pencinta Game yang Mau Kerja di Jepang, Ada Lowongan Kerja di Perusahaan Nintendo Switch

Banyak pengunjung ingin mendapatkan lebih dari sekadar pengalaman wisata dan menemukan cara yang lebih bermakna untuk mengeksplorasi spiritualitas.

Mereka menghabiskan waktu berdoa di Taman Suci, atau duduk di bawah pohon di tepi kolam untuk bermeditasi.

Mereka juga menempatkan patung kecil Sang Buddha di baskom berisi air, serta memberikan pakaian dan makanan kepada yang membutuhkan.

Di Indonesia, umat Buddha memperingati Hari Raya Waisak dengan meluangkan waktu dari aktivitas normal mereka untuk berlatih meditasi dan refleksi.

Halaman:

Tags

Terkini