PejuangKantoran.com - Antusias penonton sebelum Sekawan Limo 2: Gunung Klawih resmi ditayangkan di bioskop pada 27 Mei 2026 cukup tinggi. Seminggu sebelumnya, pemesanan tiket sudah mencapai 30.000.
Itu sebabnya produser Mithu Nisar optimis sekuel film Sekawan Limo ini akan menjadi film andalan penonton sepanjang libur long weekend Idul Adha hingga Hari Lahir Pancasila ini.
Kabar menyenangkan tidak hanya soal antisipasi penonton, tetapi juga cerita-cerita seru yang dialami para pemain selama syuting. Berikut beberapa cerita mereka saat konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga: Meski Terbebani Kesuksesan Film Pertama, Bayu Skak Pede dengan Pesan 'Sekawan Limo 2: Gunung Klawih'
1. Selepas syuting, Gisella Anastasia pelihara ular
Berperan sebagai dukun di film, Yu Chen, Gisella diperlihatkan sering memegang ular. Ternyata, hal itu membuatnya ingin memelihara ular. Sekarang, ia punya empat ular peliharaan.
Ada salah satu ular tersebut yang merupakan pemberian seseorang. Orang yang memberi ular itu ternyata berharap Gisel segera mempostingnya di media sosial, sejak mereka syuting bulan Oktober 2025.
"Aku cuma bisa bilang, ‘Aduh filmnya belum tayang, rek? Nanti kalau posting ular dulu kan spoiler jadinya!’ Jadi dia lagi nungguin tanggal tayang supaya aku bisa posting tuh satu ular endorse-an,” seloroh Giselle.
Aktris kelahiran Surabaya, 35 tahun lalu ini, juga senang karena jadi bisa menmbungkus banyak kuliner Jawa Timur kesukaannya saat syuting. Sekadar info, sutradara Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Bayu Skak memang selalu membuat film dengan setting Jawa Timuran.
2. Joshua Suherman dipercaya sebagai konsultan komedi
Baca Juga: Ditampar Baim Wong saat Syuting 'Suamiku Lukaku', Acha Septriasa Alami Pecah Pembuluh Darah
Tidak hanya berperan sebagai Wisang, Joshua Suherman juga dipercaya sebagai konsultan komedi. Meski hampir 80 persen dialog di film menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran, ia merasa pekerjaan ini tidak sulit karena ensemble pemainnya komika kawakan seperti Firza Valaza, Benidictus Siregar, hingga Cak Kartolo dan Cak Maroto.
“Mereka punya style komedi dan insting komedinya masing-masing. Jadi mereka paham betul sebuah dialog itu kalau mau lucu delivery-nya seperti apa. Nah, tugasku benar-benar sebagai konsultan saja," ujar Joshua.
Menurutnya selama hal itu tidak kontradiktif terhadap cerita, dan para pemain tidak membocorkan punchline besarnya, tidak ada masalah. Mungkin itu pula sebabnya mengapa sifatnya jadi kolaboratif.
"Dan, dari skripnya sendiri yang ditulis Nona Ica juga sudah lucu. Jadi sebagai comedy consultant, saya tinggal ngeluarin penampilan terbaik dari teman-teman cast aja! Rasanya kayak jadi pelatih bola tapi pemainnya dream team semuanya!” serunya.
Artikel Terkait
Pilates Tak Lagi Sekadar Soal Postur Tubuh, Studi Baru Ungkap Manfaat untuk Kesehatan Otak
Perubahan Kapasitas Kerja Bisa Mengungkap Risiko Cuti Sakit Sejak Dini di Tempat Kerja
6 Kejanggalan dari Pemalsuan Riset yang Diduga Dilakukan Peneliti Indonesia di Konferensi Internasional
Ditampar Baim Wong saat Syuting 'Suamiku Lukaku', Acha Septriasa Alami Pecah Pembuluh Darah
Dutch Business Network Indonesia Buka Lowongan Kerja Operations & Communications Coordinator
3 Gaya Kepemimpinan Modern yang Bisa Disimpulkan dari Tokoh-tokoh The Devil Wears Prada 2
Penjualan Turun Drastis, Jaringan Toko Ritel Galeries Lafayette Menutup Tokonya di Beijing