PejuangKantoran.com - Saat membeli tiket transportasi, baik pesawat, kereta, maupun bus—kita hampir selalu menemukan istilah “pulang pergi” (PP), bukan “pergi pulang”. Sekilas terlihat sederhana, tapi ternyata urutan kata ini punya alasan menarik dari sisi bahasa dan kebiasaan penggunaan.
Dalam bahasa Indonesia, istilah “pulang pergi” sudah menjadi bentuk yang baku dan umum digunakan dalam berbagai konteks perjalanan. Meski secara logika seseorang memang “pergi dulu baru pulang”, dalam praktik kebahasaan urutannya tidak selalu mengikuti alur kejadian.
Menurut penjelasan linguistik, susunan kata seperti ini bersifat arbitrer, artinya terbentuk berdasarkan kesepakatan penggunaan dalam masyarakat, bukan aturan logika waktu.
Baca Juga: Pemerintah Australia Menghentikan Pendaftaran Kampus Swasta untuk Mahasiswa Internasional
Kenapa “Pulang” Didahulukan?
Ada beberapa penjelasan menarik mengapa “pulang” justru berada di depan:
Salah satunya berkaitan dengan kebiasaan bahasa yang mengutamakan kata yang dianggap lebih “dekat” atau “familiar” secara emosional. Kata “pulang” sering dikaitkan dengan sesuatu yang lebih ditunggu dan memiliki makna emosional yang kuat dibanding “pergi”.
Selain itu, dalam bahasa Indonesia kita juga mengenal pola serupa seperti:
- turun naik
- maju mundur
- keluar masuk
Pola ini menunjukkan bahwa urutan kata tidak selalu mengikuti kronologi, tetapi lebih pada kebiasaan ujaran yang dianggap paling natural.
Baca Juga: Kenapa Notifikasi Grup Kantor Bisa Memicu Stres Saat WFH? Ini Penjelasannya
Sudut Pandang Bahasa dan Kebiasaan
Dari sisi psikolinguistik, manusia cenderung memilih susunan kata yang lebih mudah diucapkan dan lebih cepat dipahami dalam komunikasi sehari-hari. Karena itu, bentuk “pulang pergi” akhirnya lebih mapan dan digunakan secara luas dalam sistem transportasi, tiket, hingga percakapan sehari-hari.
Seiring waktu, bentuk ini menjadi standar yang tidak lagi dipertanyakan, meskipun secara logika urutan perjalanannya adalah sebaliknya.
Istilah “tiket pulang pergi” bukanlah kesalahan atau kebetulan, melainkan hasil dari kebiasaan bahasa yang sudah mengakar. Urutan kata dalam bahasa tidak selalu mengikuti logika waktu, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan, kenyamanan pengucapan, dan makna emosional yang melekat pada kata tersebut.
Jadi, meski kita “pergi dulu baru pulang”, dalam bahasa Indonesia tetap yang berlaku adalah: pulang pergi.
Artikel Terkait
Jurusan Teknik Kini Resmi Jadi “Rekayasa”, Ini Alasan Kemendiktisaintek Mengubah Namanya
Karyawan Meta Protes, Perusahaan Memasang Teknologi Pelacakan Pergerakan Mouse di Laptop Mereka
Begini Dampak Melemahnya Nilai Rupiah terhadap Kehidupan Kelas Menengah seperti Kita
BI dan Bakom: Rupiah Bisa Tembus Rp18.000 Tanpa Intervensi, Pemerintah Klaim Stabilitas Tetap Terjaga
Standard Chartered akan Memangkas Ribuan Karyawan Seiring Meningkatnya Penggunaan AI
Sempat Sepi Peminat, Gimana Sih Cara Mengajukan Permohonan Global Citizenship of Indonesia?
Dokumen Persyaratan bagi Eks WNI yang Ingin Mengajukan Visa Global Citizenship of Indonesia
Pemerintah Australia Menghentikan Pendaftaran Kampus Swasta untuk Mahasiswa Internasional
Gelombang PHK di Meta Pangkas 8.000 pekerjaan, Staf di Singapura Kena Mental Diberitahu Jam 4 Pagi
Gojek Ubah Skema Bagi Hasil: Driver Terima Penghasilan 92%, Penumpang Tetap Bayar Sama