PejuangKantoran.com - Arswendo Atmowiloto adalah wartawan dan penulis novel yang terkenal dengan salah satu karyanya, Keluarga Cemara.
Kini, karya lain dari Arswendo, 1 Kakak 7 Ponakan, akan segera tayang pada 23 Januari 2025. Film ini diangkat dari serial televisi yang disutradarai Arswendo pada tahun 1996.
Film ini mengisahkan Moko (Chicco Kurniawan), arsitek muda yang sedang berjuang meraih mimpinya. Ia mendapatkan beasiswa S2 ke Kanada dan membangun biro arsitek bersama kekasihnya, Maurin (Amanda Rawles).
Baca Juga: Siap-siap, Tumbler Stanley Bakal Launching Warna Baru
Moko tinggal bersama kakaknya, Atmo (Kiki Narendra) bersama istrinya, Agnes (Maudy Koesnadi), dan anak-anaknya, Woko (Fatih Unru), Nina (Freya JKT48), dan Ano (Ahmad Nadif).
Namun, mendadak Atmo terkena serangan jantung hingga meninggal, dan Agnes juga meninggal setelah melahirkan bayi Ima. Moko pun terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi keponakan-keponakannya.
Ia harus menyingkirkan impiannya menjadi arsitek dan memutuskan pacarnya karena fokus mengurus keponakan. Bahkan di tengah ia berjuang mengurus keponakannya, tanggungannya bertambah ketika ia harus menampung anak dari guru pianonya, Gadis (Kawai Labiba).
Berbagai himpitan kehidupan terus menimpa. Namun Moko tidak pernah mengeluh, dan memastikan ponakan-ponakannya nyaman tinggal bersama.
Ketika keponakannya sudah mulai besar, ia mulai untuk mengejar mimpinya sebagai arsitek. Namun, konflik baru datang ketika kakaknya, Osa (Niken Anjani), bersama suaminya, Eka (Ringgo Agus Rahman) memutuskan untuk tinggal serumah sekembali mereka dari Kanada.
Akan seperti apakah respons Moko? Apakah kakaknya ikut membantu meringankan beban atau malah menambah beban? Bagaimana pula Moko mempertahankan keutuhan keluarga tersebut?
Baca Juga: Peserta Seleksi CPNS dan PPPK 2024 yang Tidak Lolos Bisa Tetap Kerja Jadi PPPK Paruh Waktu
Film 1 Kakak 7 Ponakan ini sukses mengaduk emosi selama 2 jam 10 menit. Tema sandwich generation yang diangkat Arswendo 28 tahun lalu masih relevan banget dengan yang dialami generasi hari ini.
Namun sutradara Yandy Laurens tampaknya ingin mencoba menyuguhkan tema sandwich generation dari sisi positif. Kebalikan dari asumsi yang kerap dikaitkan dengan kegetiran dan kesehatan mental.
“Ketika kita sadar dan mencerna kalau kita itu sandwich generation, tiba-tiba muncul self-pity. Rasa mengasihi diri yang besar sekali.
"Ya ampun, aku terlahir dalam himpitan ini dan biasanya apa yang dilakukan selanjutnya lebih ke negatif. Kehilangan trust sama orang-orang di rumah, dan ini menghancurkan hubungan.