Ia tidak mau meniru rumah produksi lain yang mengeluarkan dua versi (17 dan 21 tahun) untuk perilisan sebuah judul film (seperti MD Entertainment saat merilis Pabrik Gula).
“Kenapa tidak dijadikan marketing, mungkin karena kita merasa belum sebesar itu untuk terlalu pede bahwa ini bisa ditonton oleh sekian banyak orang di Indonesia dan diperbolehkan secara sistem untuk bisa masuk 2 kategori pemutaran di bioskop.
"Lagi pula, bukan strategi marketing kita juga, sih. Kenapa harus meniru yang lainnya? Film kita berbeda, strateginya juga harus berbeda!” tukas Anggy.