PejuangKantoran.com - Rating film sangat penting untuk memberikan gambaran seperti apa konten film tersebut. Misalnya, seberapa tinggi tingkat kekerasan adegannya, adakah bahasa yang kasar, atau apakah ada adegan intim bagi penonton dewasa.
Dengan begitu, penonton dapat membuat pilihan yang sesuai dengan preferensi dan usia mereka.
Semakin tinggi rating yang diberikan, semakin kecil jangkauan penonton. Itu sebabnya ketika film terbarunya, Gundik, mendapat rating 21 tahun, sutradara Anggy Umbara sempat dibuat frustrasi. Ia merasa standar rating film di Lembaga Sensor Film (LSF) belum baku.
Baca Juga: Setelah Tujuh Tahun Menanti, Pembeli Apartemen Meikarta Mendapat Kejelasan dari Menteri PKP
“Kalau ngomongin soal frustrasi dengan LSF, dari semalam kita sudah frustrasi. Sebetulnya bukan dari semalam saja, ya. Dari kita bikin teaser poster, udah bermasalah karena poster dikasih 21, padahal gambarnya begitu.
"Jadi, kita harus bikin poster satu lagi yang diminta lebih ramah (penonton). Nah, kita nggak tahu nih poster yang lebih ramah buat horor seperti apa? Harus senyum atau bagaimana?” ujar Anggy, saat konferensi pers film Gundik di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (16/5/2025).
Hal yang sama juga terjadi saat memasukkan teaser trailer dan filmnya. Karya Anggy Umbara selalu mendapat rating penonton 21 tahun. Sehingga ia mengakui sistem dan birokrasinya membingungkan.
Anggy pun memberi contoh. Dalam film, ada adegan Luna Maya sebagai Nyai Roro Kidul minum darah. Untuk bisa lolos rating 17 tahun, ia harus membabat adegan tersebut.
Padahal, di film-film horor lainnya di mana ada vampir atau drakula minum darah, tapi rating-nya 13 tahun.
"Kalau sedikit-sedikit saja, hal-hal yang nggak substantial dipermasalahkan, itu kan jadi masalah. Jangan sampai hal-hal seperti ini mempersulit para filmmaker berkembang, untuk bisa berkarya!” tukasnya.
Baca Juga: Pemerintah AS Cabut Izin Harvard, Nasib Ribuan Mahasiswa Asing Terancam!
Salah satu penyebab penentuan sensor tidak jelas atau baku adalah karena orang yang bertugas melakukan sensor kerap berbeda.
“Setiap yang masuk studio untuk sensor, orangnya beda. Next-nya, yang revisi beda lagi. Ini gimana kita? Tanggal tayang dan skedul screening sudah ditetapkan. Jadi, mempersulit kita ujung-ujungnya.
"Ini sebagai koreksi saya untuk LSF. Ke depannya, ayolah diperbaiki. Masukan buat tim yang baru. Frustrasi sih, frustrasi!” aku sutradara kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1980 ini.
Walaupun frustrasi, Anggy Umbara tetap akan menunggu kabar LSF hingga film Gundik dengan rating film 17 tahun keluar dan menggunakan versi tersebut saat tayang di seluruh bioskop pada 22 Mei nanti.
Artikel Terkait
Panduan Lengkap Registrasi SDUWHV 2025: Peluang Emas untuk Work and Holiday Visa ke Australia
Korban PHK Bisa Dapat Tunjangan 60% Gaji selama 6 Bulan, Ini Syarat dan Ketentuan untuk Mengklaimnya!
Jika Tak Melakukan Kesalahan Keseringan Bilang Maaf Bikin Terkesan Tidak Percaya Diri, Lebih Baik Lakukan Ini!
8 Langkah Penting Yang Harus Pertama Kali Kamu Lakukan Ketika Terkena PHK
Merasa Terisolasi dan Jadi Lebih Minder Jadi Dampak Negatif Kerja Remote. Kok Bisa?
BRI dan PELNI Perkuat Sinergi Maritim untuk Dukung Konektivitas Nasional
Jadwal Langkah Strategis Yang Harus Kamu Lakukan Untuk 30 hari Ke Depan Setelah Kamu Kena PHK