Jika Tak Melakukan Kesalahan Keseringan Bilang Maaf Bikin Terkesan Tidak Percaya Diri, Lebih Baik Lakukan Ini!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 23 Mei 2025 | 11:30 WIB
Kata maaf hanya diucapkan kalau kamu melakukan kesalahan. (Freepik)
Kata maaf hanya diucapkan kalau kamu melakukan kesalahan. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Meski tidak bermaksud sering bilang “maaf”, tetapi kata ini muncul otomatis dalam berbagai situasi. Misalnya, saat menyela percakapan, mengirim email panjang, atau menyampaikan pertanyaan.

Padahal, minta maaf seharusnya dipakai saat memang melakukan kesalahan.

Namun, di lingkungan kerja atau situasi profesional, banyak yang justru mengucapkan “maaf” terlalu sering, bahkan ketika sebenarnya nggak perlu.

Dampak buruknya, kamu bisa mengalami penurunan kesan percaya diri dan membuat penyampaian terdengar kurang yakin.

Mengapa kata maaf jadi kontraproduktif?

Beberapa contoh kalimat dengan kata maaf yang sering diucapkan di dunia kerja antara lain:

  • “Maaf, boleh nambahin sedikit?”
  • “Maaf, menurut saya objektif program ini tidak sesuai dengan market kita.”
  • “Maaf, mengapa tidak kita naikkan saja batas atasnya?”

Baca Juga: Kata Maaf Memang Magical Word. Berikut Ini Penggunaan yang Tepat di Kantor

Kebiasaan ini sering muncul tanpa disadari dan biasanya juga disertai dengan kata-kata yang merendahkan diri, seperti “hanya” atau “mungkin saya salah”.

Meski mencerminkan kesopanan dan niat baik, tetapi jika terlalu sering dilakukan tanpa alasan jelas, berkata “maaf” justru bisa memberi kesan kurang percaya diri.

Terlalu sering mengucap “maaf” bisa berdampak:

  • Melemahkan pesan;
  • Mengurangi kesan profesional;
  • Menimbulkan kesan ragu-ragu atau memberi kesan mengganggu.

Ucapan seperti ini sering dianggap sebagai tanda ketidakpastian sehingga pendapat menjadi kurang diperhatikan atau mudah diabaikan.

Tanpa disadari, kesempatan untuk menyampaikan pesan secara efektif menjadi tertutup.

3 Cara mengubah kata maaf menjadi lebih kuat

Meskipun kamu tidak perlu sepenuhnya menghilangkan kata “maaf”, tetapi penting untuk mengenali saat yang tepat untuk menggantinya dengan ungkapan yang lebih sesuai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: CNBC

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X