"Untuk pendalaman karakternya, saya melihat dari teman-teman yang pernah mengalami kehilangan. Saya lihat dari situ bagaimana rasanya kehilangan seorang bapak!” ujar Bastian.
Aghniny Haque, yang berperan sebagai Saras, menjelaskan bagaimana karakter yang ia
perankan adalah potret nyata anak pertama di banyak keluarga: kuat, logis, dan sering menekan emosinya sendiri.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Bantuan Subsidi Upah Mulai 5 Juni 2025, Sasar Pekerja Berpenghasilan Rendah
Namun di tengah-tengah keanehan mistis yang terjadi, semua logika itu mulai runtuh.
“Bobot peran yang dimainkan di sini tuh, emotional-nya dalem banget. Bukan tentang fisik atau aksi, tetapi karena ada banyak luka yang harus dimunculkan di sini.
"Luka karena kehilangan orang tua, luka untuk ‘apakah dia bisa untuk mengontrol keluarganya agar baik-baik saja’, dan luka untuk memikirkan agar adiknya tidak pergi meninggalkan dia,” kata Aghniny.
Berbeda lagi dengan Epy Kusnandar pemeran Pak Hadi yang jenazahnya menghilang, dan ternyata ditemukan berjalan kaki menuju ke kampung halamannya di Lamongan.
Awalnya, Epy berpikir hanya tampil di bagian awal saja sebagai jenazah.
Baca Juga: Pengajuan Kartu Kredit BRI Easy Card Kini Semakin Mudah Lewat Website Resmi
“Jangan bilang-bilang ya. Sebenarnya, saya menyesal menerima peran sebagai Pak Hadi di sini karena tantangannya berat. Mengharuskan saya kurus kering karena menjadi jenazah yang berjalan.
"Saya harus berjalan dari Surabaya ke Lamongan. Kirain saya main cukup di awal saja, jadi mayat, sudah gitu selesai.
"Ternyata, setelah menjadi mayat, sepanjang film saya harus menahan napas. Jangan sampai terlihat bernapas karena selalu di-closeup wajahnya. Untung saja, ada workshop fisik sebelumnya!” seru Epy, disambut tawa semua yang hadir.