Salah satu caranya adalah dengan me-reinterpretasi cerita atau istilah yang dianggap paling tepat, mendekonstruksi cerita rakyat Malin Kundang.
“Kita mencoba meng-update sensibility itu agar masuk ke generasi anak muda sekarang. We love that deconstruction terms. Dekonstruksi, kita rasa adalah satu elemen yang memegang peran penting dalam cerita Malin Kundang ini.
"Tidak menolak, tidak membantah, tapi kalau kita bicara soal mouth to mouth stories kan pasti dari asalnya ceritanya seperti apa, akan sampai ke kita seperti apa," kata Jokan.
Menurutnya, mereka bisa menyampaikan cerita rakyat dengan tetap menyisipkan nilai-nilai luhur tetapi dengan gaya penceritaan yang disesuaikan dengan kepentingan orang yang menceritakan.
Baca Juga: 26 Pegawai yang Dipecat Dirjen Pajak, Menkeu Purbaya Tegaskan Kesalahan Mereka Tak Bisa Diampuni
"Sensibilitasnya bisa lebih zaman sekarang, sehingga mungkin juga bisa diterima generasi muda sekarang!” tambahnya.
Dalam proses dekonstruksi ini, Joko mencoba mencari tahu akar masalah serta penyebab dari ceritanya. Yang ia dapatkan adalah apa yang dialami Malin Kundang masih relevan dengan persoalan di masa sekarang.
“Kita selalu bilang cerita Legenda Kelam Malin Kundang ini tentang inter generational trauma. Beban, trauma yang dibawa dari generasi sebelumnya ke kita.
"Itu masih terjadi dan baru kita sadari bahwa hal itu memegang peranan sangat penting dalam hidup. Apa yang dialami orang tua kita, bapak ibu kita, kadang-kadang kita rasakan juga!” pungkas Joko Anwar.