PejuangKantoran.com - Tidak hanya berakting sebagai Rudi, Sal Priadi juga dipercaya sutradara Edwin untuk mengkontribusikan karyanya sebagai OST (original soundtrack) film Monster Pabrik Rambut. Uniknya, kontribusi musik itu datang tanpa sengaja.
Saat syuting, ada satu adegan yang mengharuskan Sal berakting memainkan gitar sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Tak disangka, kelar syuting, Edwin mengungkap ketertarikannya pada potongan lagu yang diciptakan Sal secara spontan di lokasi.
“Ada satu scene di mana aku menyanyikan sedikit lagu anak-anak Kepala, Pundak, Lutut, Kaki sambil bergumam. Tiba-tiba mas Edwin bilang (penggalan) lagu ini kita bikin full-nya saja!” ucap Sal, saat konferensi pers Monster Pabrik Rambut di Senayan City XXI, Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Penyanyi berusia 34 tahun itu mengaku cukup kaget dengan permintaan sutradara. Ia bingung untuk membuat lagu yang lahir secara spontan itu dalam versi panjangnya.
Untuk itu ia berdiskusi dengan Edwin tentang suasana yang mau dikejar untuk musik yang ia ciptakan nanti. Setelah itu, baru ia mencari produser, menentukan mood, dan membuat lirik.
“Referensinya sih memang lebih banyak dari suasana yang aku tangkap di set pabrik itu, juga ada lagu mars pabrik dan juga buruh-buruh yang muncul dari sana. Ini proses yang rasanya paling dashyat.
"Akhirnya aku coba membayangkan situasi sebagai pesan-pesan yang mau disampaikan gitu,” seru Sal, yang pernah masuk nominasi Piala Citra 2022 untuk Pencipta Lagu Tema Terbaik.
Sal mengembangkan lagu anak-anak itu menjadi lagu berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang bernuansa elektronik. Banyak hal baru yang ia jalani selama penggarapan lagu tersebut. Salah satunya adalah untuk kali pertama bekerja dengan produser musik elektronik, Attila Syach.
Mereka berdua berusaha menyampaikan gagasan soal bunyi-bunyian industrial yang ada di suasana pabrik. Salah satunya melalui derap langkah kaki para pemain, seperti Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, hingga Luqman Kev.
Baca Juga: Kenapa Kimberly Ryder Ngaku Series 'Ikhlas Paling Serius' Relate Banget dengan Kehidupannya?
“Approach-approach-nya belum pernah saya lakukan sepanjang saya bermain musik. Biasanya pendekatan mulai dari gitar atau piano. Tapi, kali ini dari soundscape, dari bunyi-bunyi yang bisa menangkap situasi filmnya!” ujar Sal.
Proses penggarapan OST ini memakan waktu 1,5 bulan. Attila Syach, yang bertindak sebagai produser, mengaku sempat bingung ketika Sal Priadi menemuinya dengan ide-ide yang sulit ia deskripsikan karena sangat spesifik.
“'Attila, di sini ada suara metal ya, di sini harus ada suara monster'. Pokoknya, segala macam suara. Tugas saya sebagai produser, in a way, sebagai translator karena menerjemahkan apa yang ia inginkan sebenarnya.
"Intinya, selama proses kreatif, saya juga harus kreatif dengan ide-ide apa yang akan di-record. Suara kaki, (tepuk-tepuk) punggung kita sendiri, suara aspal, bikin suara makan tomat, makan apel, hingga suara gemericik air cuma untuk dimasukkan dalam soundtrack!” ujar Attila, mantan model dan bintang sinetron yang kini banyak menggarap musik-musik untuk teater.