PejuangKantoran.com - Singapura terkenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Pekerjanya punya gaji yang bikin iri, dengan rata-rata pendapatan bulanan mencapai Rp60 jutaan ($5.775). Bahkan di sektor keuangan, gajinya bisa tembus Rp100 juta lebih sebulan.
Tapi, gaji sebesar itu ternyata nggak otomatis bikin pekerja Singapura bahagia. Data terbaru dari Workplace Happiness Index 2026 menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan.
Singapura justru menduduki peringkat kedua terbawah soal kebahagiaan kerja di Asia-Pasifik. Mereka kalah jauh dari Indonesia yang justru menempati peringkat pertama dengan tingkat kebahagiaan 82%.
Baca Juga: Jangan Kena Jebakan Pertanyaan 'Kapan Bisa Mulai Bekerja', Pertimbangkan Ini Sebelum Menjawabnya!
Lantas, kenapa pekerja Singapura merasa tidak bahagia padahal punya gaji tinggi?
Tenaga diperas habis-habisan
Masalahnya bukan karena mereka benci pekerjaannya. Sekitar 81% pekerja di Singapura sebenarnya percaya kalau bahagia di kantor itu sangat mungkin dicapai. Masalahnya, apa yang mereka harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang mereka jalani sehari-hari.
Banyak pekerja yang merasa tenaganya diperas habis-habisan tapi kurang dihargai. Istilah kerennya, mereka overstretched dan exhausted. Bayangkan saja, hampir separuh pekerja (45%) mengaku merasa burnout atau kelelahan mental yang parah.
Memang benar, 64% orang merasa gaji lebih tinggi bisa bikin mereka lebih senang. Tapi data menunjukkan, gaji besar itu efeknya cuma sementara. Bahkan setengah dari mereka yang gajinya di atas Rp100 juta sebulan tetap merasa burnout.
Yang bikin mereka bahagia adalah makna atau tujuan dalam bekerja. Namun di sinilah masalahnya, hanya setengah dari pekerja di Singapura yang merasa pekerjaan mereka ada artinya. Sisanya merasa cuma menjalankan rutinitas.
Baca Juga: Kalau Ditanya 'Kapan Bisa Mulai Bekerja', Jangan Menjawab ‘Secepatnya’. Ini Alasannya!
Lalu apa yang memicu ketidakbahagiaan pekerja Singapura?
• Kurangnya pengakuan. Satu dari dua karyawan merasa kontribusinya tidak pernah dianggap atau diapresiasi secara konsisten.
• Karier yang stagnan. Hanya 37% yang merasa masa depan karier mereka jelas dan positif.
• Burnout yang merata. Rasa lelah yang luar biasa ini tidak cuma dirasakan staf biasa, tapi juga mereka yang bergaji tinggi.
Artikel Terkait
Sukuk Tabungan ST016 Tawarkan Kupon di Atas 6%, Lebih Tinggi daripada Produk Sebelumnya
Seven Retail Buka Lowongan Kerja Growth & Strategy Associate Lulusan Akuntansi atau Keuangan
Kenapa Kimberly Ryder Ngaku Series 'Ikhlas Paling Serius' Relate Banget dengan Kehidupannya?
Generasi Muda Mulai Ubah Prioritas Pernikahan, dari Pesta Besar ke Kesiapan Rumah Tangga
“Soft Socializing”, Tren Sosialisasi Baru Gen Z yang Lebih Santai dan Minim Drama
Pengangguran Tembus 7,24 Juta, Wamenaker Minta Anak Muda Buka Lapangan Kerja Sendiri
Kena Side Stitch atau "Suduken" Saat Lari? Tenang, Tidak Berbahaya Kecuali Jika Ada Sejumlah Hal Berikut Ini!