Mendengar lirik-lirik lagu yang kebanyakan ditulis sendiri oleh ibu Kawa dan Tabi ini pun terasa sangat personal, dan menjadi satu storytelling yang runtut dari lagu pembuka, Intro, hingga lagu penutup, Sehidup Semusik.
Pendengar seolah diajak untuk masuk ke semesta Andien, dan ikut merasakan impresi perjalanan dan interaksi dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya.
“Aku ingin sekali bikin buku yang menceritakan sebuah perjalanan dari bab 1 sampai akhir gitu, yang ketika baca bab 1, (pendengar) penasaran nanti konfliknya seperti apa ya? Cerita ditutupnya akan bagaimana ya?
"Memiliki passion seperti itu bukan kesempatan yang biasa buatku. Ketika ada semangatnya, itu harus cepat-cepat ditangkap dan aku jadikan bahan bakar supaya baranya tetap menyala selama mengerjakan album ini!” ujar pemenang piala Anugerah Musik Indonesia kategori album jazz terbaik tahun 2018 ini.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Latihan Easy Run Membuat Lari Marathon Menjadi Aman
Tidak hanya turun langsung dalam penggarapan musik dan penulisan lagu, Andien juga hands-on pada konsep kreatif sampul album Sehidup Semati. Sampul tersebut menampilkan Andien berada di mobil bak terbuka ditemani sosok dari animasi 3D yang digambarkan menjadi teman perjalanannya.
“Cover album ini bukan sekadar estetika tapi mengandung filosofi. Untuk aku, Sehidup Semusik itu sebuah perjalanan. Makanya, ada mobil dan aku bersama teman seperjalanan yang sudah membawa aku ke banyak tempat.
"Aku sadar jika teman seperjalanan ini bukan manusia tapi adalah rasa itu sendiri. Lalu, melalui meditasi, aku temukan inner child aku yang membawaku di perjalanan-perjalanan dalam hidupku.
"Desain 3D karya Ykha Amelz yang menemani aku di cover adalah inner child sekaligus maskot aku yang nantinya akan ada turunan-turunan lainnya!” pungkas Andien.