Pejuangkantoran.com – Kecelakaan pejalan kaki tertabrak KRL Commuterline di pelintasan kereta yang terjadi pada 01/08/2026, seperti yang disampaikan news.detik.com, terjadi karena diduga korban mengenakan headset saat menyeberang perlintasan saat palang kereta sudah ditutup.
Peristiwa ini mengingatkan lagi pada kita terhadap keselamatan pejalan kaki. Pejalan kaki yang mengenakan headset dan mengalami kecelakaan, menjadi salah satu concern sebuah studi yang diterbitkan di Injury Prevention. Studi ini menganalisis laporan kecelakaan di Amerika Serikat selama 2004-2011.
Studi yang dipublikasikan di pubmed.ncbi.nlm.nlh.gov ini menunjukkan bahwa:
- Terdapat 116 kasus pejalan kaki yang mengalami cedera serius atau meninggal ketika menggunakan headphone.
- 81 kasus (70%) berakhir dengan kematian.
- 68% korban adalah laki-laki.
- 67% berusia di bawah 30 tahun.
- 55% kecelakaan melibatkan kereta api, sisanya kendaraan bermotor.
- Dalam 29% kasus, saksi melaporkan bahwa klakson atau sirene telah dibunyikan tetapi korban tidak bereaksi.
Baca Juga: Berlari Sambil Mendengarkan Musik Lewat Headphone Memang Asyik. Namun, Waspadai Hal-Hal Berikut Ini!
Di Indonesia, belum banyak penelitian yang cukup relevan dengan hal ini. Salah satu yang ada adalah sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 di ejournal.atmajaya.ac.id.
Penelitian yang dilakukan oleh Maria Magdalena Wahyuni Inderawati, Sefanya, Mahaelani, da Marsela Gracia ini judulnya Analisis Penggunaan Earbuds atau Earphone di Telinga Saat Berkendara Roda Dua.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan earphone ketika mengendarai sepeda motor berpotensi mengurangi kewaspadaan terhadap lingkungan lalu lintas sehingga meningkatkan risiko keselamatan.
Makin maraknya orang berolah raga di tempat umum (jalan raya), seperti lari, jalan kaki, atau bersepeda mendorong orang untuk lebih aware terhadap keselamatan saat berolah raga di jalan.
Earphone bone conduction menjadi salah satu tools yang dicari oleh pegiat olah raga di jalan raya, utamanya yang peduli dengan keselamatan berolah raga. Earphone bone conduction memungkinkan telinga tetap terbuka saat orang memakainya.
Baca Juga: Mana Yang Cocok Buat Kamu, Headphone atau Earbuds? Berikut Alasan-Alasannya!
Teknologinya Sudah Dikenal Sejak Ratusan Tahun Lalu
Meskipun earphone bone conduction ini canggih, namun sebenarnya dasar teknologi ini sudah ditemukan ratusan tahun yang lalu. Penemuan oleh Gerolamo Cardano pada tahun 1550-an menjadi konsep dasar earphone bone conduction.
Cardano menjelaskan bahwa suara dapat dihantarkan melalui tulang tengkorak, bukan hanya melalui udara. Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat mendengar dengan menggigit batang logam yang terhubung ke sumber getaran.
Dan ini sudah dipraktikkan pada abad ke-19 oleh komposer musik klasik Ludwig van Beethoven yang diketahui mengalami gangguan pendengaran. Beethoven menggigit batang logam yang ditempelkan ke piano untuk meraskan getaran suara melalui tulang rahangnya.
Artikel Terkait
Mau Nonton Konser? Jangan Lupa Pakai Earplug sebagai Pelindung Telinga dari Ingar-Bingar
Taylor Swift Lindungi Suara dari AI, Daftarkan Frasa Ikonik sebagai Merek Dagang
Harta Karun dari Tiongkok: Ini 6 Brand Sepatu Lari Alternatif dari Negeri Tirai Bambu
Mindful Running: Ternyata Lari Bisa Menjadi Sesi Meditasi Penurun Stres
Teknologi dalam Genggaman untuk Sehat: Bagaimana Wearable Device Mempersonalisasi Olahraga Anda
Ada 3 Manfaat Utama Saat Melakukan Olah Raga Bersama Pasangan yang Wajib Kamu Ketahui!