Ini Adalah Awal dari Korupsi, yaitu Slippery Slope of Dishonesty. Waspadai Tanda-Tandanya di Kantormu!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Kamis, 25 Juni 2026 | 11:30 WIB
Korupsi selalu dawali dari penyimpangan kecil, jangan terjebak oleh slippery slope of dishonesty. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Korupsi selalu dawali dari penyimpangan kecil, jangan terjebak oleh slippery slope of dishonesty. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.comKorupsi itu seperti kanker, “mematikan” secara perlahan jika tidak diatasi. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak ada yang suka dan setuju dengan perilaku koruptif.

Perilaku koruptif itu tidak datang tiba-tiba. Korupsi itu tidak selalu bermiliar-miliar, namun biasanya dimulai dari nilai recehan.

Koruspi itu adalah perilaku bohong. Berbohong kecil yang dinormalisasi pada akhirnya akan menjadi penyulut kebohongan-kebohongan lain yang makin besar.

Ini yang disebut sebagai slippery slope of dishonesty. Ini adalah konsep dalam psikologi yang menggambarkan bagaimana kebohongan kecil dapat berkembang menjadi kebohongan yang lebih besar dan lebih sering seiring waktu.

Istilah ini berasal dari metafora slippery slope (lereng licin). Begitu seseorang mulai melangkah di lereng tersebut, ia semakin mudah meluncur ke bawah.

Dalam konteks kejujuran, seseorang yang awalnya berbohong sedikit demi sedikit menjadi lebih nyaman dengan ketidakjujuran sehingga kebohongannya cenderung meningkat.

Konsep ini mendapat perhatian luas setelah penelitian oleh Neil Garrett dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Neuroscience pada tahun 2016.

Baca Juga: Amnesti Internasional Nobatkan Singapura sebagai Negara Rendah Korupsi

Penelitian tersebut menemukan bahwa ketika seseorang melakukan tindakan tidak jujur yang menguntungkan dirinya sendiri, aktivitas di bagian otak yang disebut amigdala (pusat pemrosesan emosi) cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Penurunan respons emosional ini berkaitan dengan meningkatnya tingkat ketidakjujuran pada tindakan berikutnya, memicu eskalasi pelanggaran etika/peraturan. Inilah inti dari slippery slope.

Misal:

  • Seorang karyawan memalsukan laporan pengeluaran sebesar Rp50.000;
  • Setelah tindakan itu, ternyata tidak ada konekuensi yang muncul;
  • beberapa bulan kemudian, jumlah yang dimanipulasi itu meningkat berlipat-lipat.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menilai Orang Bohong atau Jujur? Lihat Saja Fokus dan Relevansi Ceritanya!

Slippery slope of dishonesty ini tidak selalu terjadi, ketika seseorang punya nilai moral yang kuat, ada mekanisme pengawasan dan akuntabilitas, ada punishment yang jelas, budaya organisasi yang menjunjung tinggi integritas, serta kesadaran diri dan refleksi etis.

Salah satu mencegah terjadinya slippery slope of dishonesty di lingkungan kerja di kantor adalah dengan mewaspadai hal-hal yang kecil dan sepele.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X