Marsya 'Voice Of Baceprot' Masuk Daftar '100 Perempuan Paling Berpengaruh 2024' versi BBC

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 10 Desember 2024 | 08:54 WIB
Firda Marsya Kurnia, vokalis Voice of Baceprot, masuk daftar perempuan paling berpengaruh di dunia dalam daftar "BBC's 100 Women of 2024". (Instagram.com @marsyavob)
Firda Marsya Kurnia, vokalis Voice of Baceprot, masuk daftar perempuan paling berpengaruh di dunia dalam daftar "BBC's 100 Women of 2024". (Instagram.com @marsyavob)

PejuangKantoran.comBBC merilis daftar "100 Women of 2024", yang menyoroti sosok para perempuan paling berpengaruh di dunia.

Kabar membanggakan untuk Indonesia, karena Firda Marsya Kurnia, vokalis sekaligus gitaris band metal perempuan Voice Of Baceprot, masuk dalam daftar tersebut.

Marsya berada dalam satu daftar bersama para politisi, aktivis, entertainer, pengusaha, biarawati, atlet, astronot, dan banyak tokoh perempuan lainnya.

Baca Juga: Voice of Baceprot Manggung di Glastonbury Festival 2024, Apa yang Mereka Khawatirkan?

Perjalanan Voice Of Baceprot

Voice Of Baceprot pertama kali dibentuk oleh Marsya pada 2014. Saat itu dirinya masih duduk di bangku sekolah.

Kini, di usia pertengahan 20-an, ia memimpin band ini bersama dua rekannya, Euis Siti Aisyah (drum) dan Widi Rahmawati (bass). Mereka dikenal sebagai trio perempuan berhijab yang membawakan musik metal.

Awalnya, band ini menarik perhatian lewat cover lagu-lagu nu metal hingga akhirnya merilis album debut berjudul “Retas” pada 2023. Lirik-lirik dalam album ini mengangkat isu seperti patriarki, kekerasan seksual, dan kebebasan berekspresi.

Meskipun belum merilis karya baru pada tahun 2024, Voice Of Baceprot mencetak sejarah sebagai band Indonesia pertama yang tampil di Festival Glastonbury di Inggris.

Untuk kali pertama dalam 54 tahun perjalanan Festival Glastonbury, sebuah band asal Indonesia diundang untuk tampil di festival tersebut, sepanggung dengan Coldplay dan Dua Lipa.

Baca Juga: Band Metal Berhijab Voice of Baceprot Masuk 10 Besar Forbes 30 Under 30 Asia Tahun 2024

Tantangan di balik kesuksesan

Perjalanan menuju prestasi ini tentu saja tidak selalu mulus. Mereka sering menghadapi kritik dari kelompok konservatif di Jawa Barat, daerah asal mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan “The Guardian” tahun lalu, Marsya mengungkapkan bahwa ia bahkan pernah dilempari batu oleh orang yang memintanya berhenti memainkan musik yang disebut sebagai "musik setan".

Meski begitu, semangat Marsya dkk tetap tak tergoyahkan. Ia dengan tegas mengatakan, "Musik adalah passion saya, jadi saya tidak peduli."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Bbc.co.uk, Metal Hammer, Loudersound.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X