Pada 1926, Ford Motor Company mengubah sistem kerja pabriknya menjadi lima hari kerja dengan delapan jam per hari. Artinya, pekerja bekerja 40 jam dalam seminggu dan mendapatkan Sabtu serta Minggu sebagai hari libur.
Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada pekerja pabrik Ford pada 1 Mei 1926.
Keputusan ini menjadi salah satu tonggak penting karena diterapkan pada skala industri besar dan kemudian membantu mendorong perusahaan lain untuk mengikuti pola serupa.
Bukan Cuma Demi Kesejahteraan Pekerja
Ada sisi menarik di balik keputusan Ford.
Lebih banyak waktu luang berarti pekerja memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan. Mereka bisa bepergian, berbelanja, menikmati hiburan, atau menggunakan mobil untuk rekreasi.
Dengan kata lain, weekend juga menciptakan konsumen yang memiliki waktu untuk berbelanja dan berekreasi.
Ford juga melihat bahwa jam kerja yang terlalu panjang dapat membuat pekerja kelelahan. Dengan mengurangi waktu kerja, perusahaan berharap produktivitas tetap terjaga karena pekerja datang dalam kondisi lebih siap.
Weekend Tidak Langsung Menjadi Standar Dunia
Meski Ford menjadi salah satu perusahaan yang berpengaruh besar, weekend dua hari tidak langsung berlaku di seluruh dunia.
Di Amerika Serikat, standar 40 jam kerja per minggu mendapatkan dasar hukum yang lebih kuat melalui Fair Labor Standards Act, yang mulai berlaku pada 1940.
Di Inggris, perubahan juga berlangsung bertahap. Pola Sabtu setengah hari dan Minggu libur lebih dulu umum digunakan sebelum dua hari penuh menjadi semakin lazim setelah Perang Dunia II.
Artinya, weekend modern merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan gerakan buruh, perubahan kebijakan perusahaan, perkembangan ekonomi, dan perubahan cara masyarakat memandang waktu istirahat.
Baca Juga: Indonesia Siapkan Kewarganegaraan Ganda Terbatas untuk Talenta Unggul Diaspora, Ini Syaratnya
Pernah Ada Sistem Tanpa Weekend
Eksperimen menarik juga pernah terjadi di Uni Soviet.
Pada 1929, pemerintah memperkenalkan sistem kalender kerja yang membuat hari libur diberikan secara bergiliran. Tujuannya antara lain menjaga pabrik tetap beroperasi tanpa harus berhenti pada satu hari tertentu.
Namun, sistem tersebut menimbulkan persoalan sosial. Anggota keluarga bisa mendapatkan hari libur yang berbeda. Orang tua bisa libur ketika anak mereka bersekolah, sementara pasangan suami istri belum tentu memiliki hari libur yang sama.
Artikel Terkait
Menyingkap Rahasia Erling Haaland: Kisah di Balik Monster Gol yang Mengguncang Jagat Sepak Bola
Erling Haaland Jadi Sensasi Piala Dunia 2026, Tak Hanya Tajam di Lapangan tapi Juga Raup Pendapatan Rp1,3 Triliun
Orang Indonesia di Balik Megahnya Upacara Pembukaan dan Penutupan Piala Dunia 2026
Perry Warjiyo Mundur Jadi Gubernur BI! Ini 5 Pejabat yang Mundur di Era Prabowo
Setelah 6 Tahun di Tanah Air, Kapten Indonesia All Stars Ezra Walian Akhirnya Jajal Rumput GBK
Pesan Tyrone Mings untuk Anak Muda yang Ingin Menjadi Pesepakbola Profesional
Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Dunia, Jadi Profesor Pria Termuda dalam Sejarah
Sosok Kolonel Inf Priyo Handoyo dan Para Perwira Upacara saat HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Juan Reza dan Verry Klau, dari Konten Hiburan di TikTok Berujung Tampil Live di Istana Merdeka
Kuliah 4 Tahun Dinilai Terlalu Lama, Bos OpenAI Ungkap Alasannya