El Niño Godzilla Diprediksi Akan Melanda Indonesia Sampai Akhir Tahun, Ini Pengaruhnya Untuk Ekonomi Indonesia

photo author
Adhityaswara Nuswandana, Pejuang Kantoran
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:55 WIB
El Niño Godzilla yang melanda Indonesia bukan sekadar persoalan cuaca panas dan musim kemarau lebih panjang. Tetapi juga bisa menjadi tekanan baru bagi pertanian, harga pangan, energi, hingga aktivitas ekonomi. (Generate by AI/PejuangKantoran.com)
El Niño Godzilla yang melanda Indonesia bukan sekadar persoalan cuaca panas dan musim kemarau lebih panjang. Tetapi juga bisa menjadi tekanan baru bagi pertanian, harga pangan, energi, hingga aktivitas ekonomi. (Generate by AI/PejuangKantoran.com)

PejuangKantoran.com – El Niño 2026 yang melanda Indonesia masuk kategori “luar biasa”, disebut dengan El Niño Godzilla, istilah populer untuk menggambarkan El Niño ekstrem dengan anomali suhu permukaan laut yang sangat tinggi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. El Niño ekstrem ini sendiri diprediksi bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas yang berpotensi sangat kuat.

Baca Juga: Ketika Kualitas Udara Buruk Akibat Kabut Asap Bakaran Sampah atau Lahan, Bagaimana Gen Z Seperti Kita Harus Bersikap

Baca Juga: Kabut Asap Dari Kebakaran Hutan Sangat Berbahaya. Gunakan Masker yang Tepat Seperti Berikut Ini!

Baca Juga: Pekerja Lapangan Paling Rentan Terpapar Kabut Asap Kebakaran Hutan, Bisakah Mereka WFH?

Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar persoalan cuaca panas dan musim kemarau lebih panjang, tetapi juga bisa menjadi tekanan baru bagi pertanian, harga pangan, energi, hingga aktivitas ekonomi jika risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak segera dikendalikan.

Seperti karhutla yang melanda hampir di seluruh wilayah Kalimantan misalnya. Kalau tidak segera dikendalikan tentu akan berdampak buruk baik bagi perekonomian dan kesehatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Niño bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027, dengan puncak intensitas yang dapat melampaui kategori kuat. Risiko kekeringan juga berpotensi meningkat akibat fenomena cuaca ekstrem seperti ini.

Sementara itu, prediksi dari Climate Prediction Center Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 90 persen terjadinya El Niño yang sangat kuat pada musim gugur-musim dingin 2026–2027. Bahkan, terdapat peluang kondisi Oktober–Desember 2026 mencapai level historis.

Karhutla Jadi Sinyal Awal

Dampak El Niño yang paling mudah terlihat adalah berkurangnya curah hujan. Tanah menjadi lebih kering, vegetasi kehilangan kelembapan dan lahan gambut semakin mudah terbakar.

BMKG memperkirakan risiko karhutla meningkat sejak Juli dan mencapai periode paling rawan pada Agustus–September 2026, terutama di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Situasinya sudah terlihat. Data yang disampaikan Menteri Kehutanan menunjukkan hampir 95.000 hektare lahan terbakar hanya pada Juli 2026, hampir dua kali lipat luas area yang terbakar selama enam bulan sebelumnya.

Namun, El Niño bukan berarti kebakaran terjadi secara otomatis. Kondisi kering membuat api lebih mudah menyebar, sementara faktor manusia, pengelolaan lahan, dan kondisi ekosistem ikut menentukan seberapa besar karhutla berkembang.

Pertanian Berada di Garis Depan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Adhityaswara Nuswandana

Sumber: Berbagai sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X