PejuangKantoran.com - Perempuan adalah tulang punggung UKM di Indonesia, dengan komposisi hampir setengah populasi dari seluruh UKM di negara ini.
Bagi banyak UKM di Indonesia, WhatsApp akan sangat membantu perkembangan bisnis mereka.
Tak cuma itu, dengan berbagai bantuan etalase online seperti WhatsApp, Instagram, Website, Facebook, Twitter, sampai TikTok, usaha kecil mereka berkembang menjadi usaha yang berkembang bahkan bisa ekspor sampai ke luar negeri.
Berikut beberapa usaha yang dirintis perempuan yang nyatanya bisa berkembang hebat dan tak dipandang sebelah mata.
Baca Juga: Gaya Tomboy Personel Blackpink Saat Soundcheck, Beda Banget Sama Saat Konser
1. HaluanBali: Busana ramah lingkungan yang mengintegrasikan teknologi terkini
Di usia 34 tahun, Defria Kirana berhenti dari pekerjaannya di bank untuk memulai merek fesyen sustainable di Bali yang menggunakan teknologi untuk menceritakan kepada pelanggannya kisah di balik setiap produk.
HaluanBali yang dimulai tahun 2019 ini hanya menggunakan bahan ramah lingkungan namun dipadukan dengan digital printing. Yang benar-benar membedakan mereka adalah semua produknya dapat di scan menggunakan handphone dan mengarahkan ke video atau gambar 3D yang menceritakan kisah di balik setiap produk kepada pelanggan.
Pada tahun 2020, usaha inovatifnya terpilih sebagai salah satu UKM terbaik oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Defria, bukan hanya pengusaha yang kreatif dan sukses, dia juga menggunakan bisnisnya untuk memberdayakan perempuan lain. Semua karyawan Haluan Bali—mulai dari pekerja hingga staf kantor, penjahit hingga vendor untuk proses digital printing—semuanya adalah perempuan.
Dalam kurun waktu empat tahun, HaluanBali mulai menjual produknya ke berbagai daerah di Indonesia, dan kini mengekspor ke Jepang, Korea, Australia, Arab, dan Jerman. Defria, memanfaatkan WhatsApp untuk memudahkan berkomunikasi dengan pelanggan.
Baca Juga: 5 Tips Motret Pakai Ponsel Biar Liburan Makin Aestetik
2. Manika Jewellery: Dibuat di Bali, dijual secara internasional
Manika Jewellery, dimulai pada tahun 1989, usaha perhiasan berbahan kuningan. Pada tahun 2015, ketika pembuat perhiasan yang berbasis di Bali Irene Setiawati mengambil alih bisnis ayahnya, dia tahu bahwa dia perlu menemukan cara baru untuk terhubung dengan pelanggan.
Apa yang membuat bisnisnya unik adalah bahwa ia mengkombinasikan batu alam lokal Indonesia yaitu batu kristal dan batu pyrite. Irene mengatakan bahwa ia tidak memoles batu menunjukkan karakter aslinya.
Artikel Terkait
Jangan Sedih, Guru-guru Juga Bisa Memanfaatkan ChatGPT Seperti Muridnya!
Suara Kecapan dan Desisan dalam Video Mukbang Ternyata Bikin Kita Rileks dan Cepat Tidur
5 Fakta Penangkapan dan Penahanan AG, Pelaku Penganiayaan David Latumahina
Ternyata, Ini Alasan AG Tidak Hadir dalam Rekonstruksi Kasus Penganiayaan David
Saat David Posisi Tobat dengan Kepala di Tanah, AG Merokok di Sampingnya
5 Tontonan Seru Akhir Pekan di Disney Plus
Berapa Kira-kira Pengeluaran buat Nonton Konser Blackpink?
Sejauh Mata Memandang Buat Koleksi Baru Bertema Kudapan yang Terinspirasi dari Onde-onde dan Kue Lapis