Aktivis Tuli Surya Sahetapy Rampungkan Pendidikan S2 dari Rochester Institute of Technology

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 20 Mei 2023 | 08:43 WIB
Surya Sahetapy menjadi satu-satunya Tuli Indonesia yang menyelesaikan pendidikan S2-nya di Rochester Institute of Technology, New York.  (Instagram @suryasahetapy)
Surya Sahetapy menjadi satu-satunya Tuli Indonesia yang menyelesaikan pendidikan S2-nya di Rochester Institute of Technology, New York. (Instagram @suryasahetapy)

“Sebagian besar masyarakat Indonesia masih meremehkan orang yang tuli. Dibilang ‘Aduh kasihan orang yang cacat’. Bahasanya kan begitu. Apa yang dikasihani? Jangan-jangan tuli yang kasihan sama kita? Udah denger, dikasih perangkat sempurna, tapi cara berpikirnya yang nggak bener,” tuturnya.

Mimpi Surya Sahetapy yang jadi kenyataan

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan S2-nya di Amerika, Surya Sahetapy mengingat saat pertama dirinya datang ke Negara Paman Sam itu. Ia bercerita, pada dua malam pertamanya di sana, ia selalu menangis.

“Saya kaget karena jika melihat hidup saya sebelumnya, ini seperti mimpi. Ini mimpi yang jadi kenyataan. Saya ada di perkuliahan yang gurunya juga tuli dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat ke saya,” ujar pria yang lahir 21 Desember 1993 ini.

Surya memang mengaku merasa iri dengan orang-orang tuli yang ada di Amerika. Mereka masih bisa mendapatkan akses penuh di dunia pendidikan, tidak seperti di Indonesia.

Menurut pria yang sempat direkrut sebagai salah satu staf khusus kepresidenan oleh Presiden Joko Widodo ini, pendidikan tuli di Indonesia lebih menekankan penggunaan bahasa verbal dan tulis. Namun, tidak banyak berinvestasi pada bahasa isyarat.

Baca Juga: Selalu Jadi Pria Manis, Kim Seon Ho Muncul sebagai Sosok Kejam dalam The Childe

Faktanya, 7 dari 10 tuli di Amerika bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satunya ke Rochester Institute of Technology, tempat Surya mendapatkan beasiswa untuk pendidikan S1 dan S2.

Bahkan, ini adalah kampus teknologi terbesar untuk tuli di Amerika dengan 1.100 mahasiswa tuli dan kesulitan mendengar. Salah satu alasannya karena tuli di sana hampir tidak ada bedanya dengan orang normal lainnya.

“Nggak ada alasan untuk remehkan tuli. Ini cuma soal keterbatasan bahasa. Perbedaan kita cuma di bahasa dan bahwa saya nggak bisa mendengar. Ini cuma soal perbedaan bahasa saja,” tegas Surya. (Elga Windasari)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Instagram @voaindonesia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X