PejuangKantoran.com - Setelah berperan sebagai pacar red flag di film Laura, Kevin Ardilova kembali berakting sebagai pacar yang super ngeselin di film Ketindihan.
Di film ini Kevin berperan sebagai Coki, kekasih Tania (diperani Haico Van Der Veken) yang kerap memperlakukan sang pacar dengan semena-mena.
Bukan menjadi penenang dalam setiap problem Tania, Coki malah kerap menambah tekanan dalam konflik yang dihadapi.
Baca Juga: Migrain Lebih Banyak Menyerang Perempuan? Lalu Kapan Saatnya Harus Mendapat Pertolongan Medis?
Dua kali berturut-turut mengambil tawaran akting sebagai cowok red flag, Kevin merasa peran seperti itu menjadi tantangan yang menarik.
“Ketika ditawari skrip ini sama mas Sunu (Dyan Sunu Prastowo, sutradara) dan teman-teman di Imagine, (saya baru tahu) ternyata film ini bukan cuma soal mau nakut-nakutin orang saja, jumpscare, atau hantu-hantu.
"Dramanya yang sudah kuat di awal. Mas Sunu selalu menekankan bahwa film ini adalah film drama yang menceritakan fenomena ketindihan.
"Makanya, begitu saya menerima naskahnya, wah... seru banget nih! Drama, tapi ada hantunya!” ungkap Kevin Ardilova, saat konferensi pers film Ketindihan di Epicentrum XXl (06/01/2025).
Apalagi beberapa teman sempat memberi dukungan agar Kevin mau mencoba.
“Diyakinin sama temen-temen yang lain juga. ‘Ayo Vin, kamu pasti bisa!’. Cobain! Dan, akhirnya bisa hadir di sini, seneng banget!" tambah nominee Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia untuk film Autobiography (2022) ini.
Baca Juga: Berani Bilang 'Tidak' untuk si Bos Toxic! (Tapi Tetap Profesional)
Untuk mendalami peran karakter yang toxic, Kevin mengaku tidak melakukan riset khusus. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia mengaku punya beberapa teman yang memberikan vibe negatif.
Pengalaman berinteraksi atau mendengar polah tingkah teman-temannya itu ia jadikan bahan riset.
“Punya teman-teman, orang-orang dekat juga, yang mungkin tidak sama dengan Coki tapi mirip-mirip seperti itu. Sebenarnya mereka nggak tahu kalau mereka se-toxic itu.
"Bagi mereka, sikap seperti itu wajar saja. Mereka menganggapnya benar, dan kita yang melihatnya sebagai toxic. Sebenarnya, kita bisa belajar dari mereka.