sosok

12 Tokoh Sumpah Pemuda 1928 yang Menjadi Role Model Indonesia Atas Keberagaman Dalam Persatuan

Senin, 27 Oktober 2025 | 14:28 WIB
Sumpah Pemuda 1928 ditokohi oleh berbagai anak-anak muda dari berbagai latar belakang suku dan agama. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
  1. Amir Sjarifoeddin Harahap

Tokoh asal Sumatera Utara ini mewakili Jong Batak Bond dan menjadi Bendahara Kongres Pemuda II.

Selain aktif dalam pergerakan pemuda, Amir Sjarifoeddin juga dikenal sebagai tokoh politik yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia pascakemerdekaan.

Ia membawa semangat nasionalisme yang kuat dan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

  1. W.R. Supratman

Nama lengkapnya Wage Rudolf Supratman, seorang wartawan, musisi, dan pejuang kebangsaan.

Dalam Kongres Pemuda II, ia memperkenalkan untuk pertama kalinya lagu ciptaannya berjudul “Indonesia Raya” dengan dimainkan secara instrumental menggunakan biola.

Lagu itu kemudian diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia, simbol semangat perjuangan dan harapan akan kemerdekaan.

  1. Sarmidi Mangoensarkoro

Sebagai wakil dari organisasi Sekar Rukun, Sarmidi Mangoensarkoro dikenal sebagai tokoh pendidikan yang menekankan pentingnya pendidikan nasional dan karakter kebangsaan.

Dalam kongres, ia menyampaikan pidato yang menggugah tentang pentingnya pendidikan berbasis cinta tanah air.

Di kemudian hari, ia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Baca Juga: Anggap Keberagaman sebagai Common Destiny, Prabowo: Semua Suku, Agama dan Etnis akan Saya Bela!

  1. Johannes Leimena

Perwakilan dari Jong Ambon, Leimena menunjukkan bahwa semangat kebangsaan tidak terbatas oleh latar belakang agama maupun daerah.

Ia kemudian menjadi dokter, politisi, dan menteri dalam berbagai kabinet setelah Indonesia merdeka.

Keterlibatannya di Kongres Pemuda menjadi bukti peran besar pemuda dari kawasan timur Indonesia dalam memperjuangkan persatuan bangsa.

  1. Mohammad Tabrani

Tokoh dari Perhimpunan Kaum Betawi ini dikenal sebagai salah satu pelopor yang mengusulkan istilah “Bahasa Indonesia” untuk menggantikan istilah “Bahasa Melayu”.

Tabrani aktif menulis di media dan mendorong kesadaran nasional melalui tulisan-tulisannya. Ia juga dikenal sebagai wartawan dan redaktur surat kabar yang berperan penting dalam menyebarkan gagasan persatuan.

Halaman:

Tags

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB