Autumn Durald Arkapaw: Perempuan Pertama yang Menang Oscar Sinematografi

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 20 Maret 2026 | 19:34 WIB
The Oscar ratings keep getting lower (John Zachary)
The Oscar ratings keep getting lower (John Zachary)

 


PejuangKantoran.com -
 Malam itu, panggung Academy Awards ke‑98 terasa berbeda. Sorot lampu menyorot Autumn Durald Arkapaw, seorang perempuan yang berhasil menembus tembok sejarah di dunia sinematografi. Untuk pertama kalinya, seorang perempuan, dan perempuan kulit berwarna, memenangkan Oscar di kategori Best Cinematography.

Durald Arkapaw, yang berdarah Filipina dan Kreol Afrika‑Amerika, berdiri di hadapan ratusan profesional film dan mengangkat pidatonya dengan nada hangat namun tegas.

Ia mengajak semua perempuan di ruangan itu untuk berdiri, dan dengan mata berbinar berkata bahwa pencapaian ini tak mungkin terjadi tanpa dukungan mereka. Suasana tegang berubah menjadi sorak-sorai penuh kebanggaan.

Sejarah ini bukan datang tiba‑tiba. Sebelumnya, dunia sinematografi hampir sepenuhnya didominasi laki‑laki.

Rachel Morrison adalah perempuan pertama yang pernah dinominasikan di kategori ini pada 2017 lewat film Mudbound, diikuti Ari Wegner dengan The Power of the Dog dan Mandy Walker dengan Elvis. Namun, hingga malam Oscars 2026, belum ada satupun dari mereka yang berhasil membawa pulang piala. Hingga akhirnya, momen bersejarah itu jatuh ke tangan Durald Arkapaw.

Baca Juga: Inspirasi Ucapan Idul Fitri Islami untuk Lebaran 2026: Hangat, Penuh Makna, dan Menyentuh Hati

Bagi dunia perfilman, pencapaian ini bukan hanya soal penghargaan. Ini adalah pengakuan bahwa kreativitas, bakat, dan dedikasi perempuan dapat bersinar seterang apapun. Di Indonesia, sinematografi perempuan masih jarang menembus level internasional, tetapi nama‑nama seperti Mouly Surya, Kamila Andini, dan Nia Dinata menunjukkan bahwa perempuan Indonesia juga mampu menciptakan karya yang mendunia, meski lebih banyak di posisi sutradara atau penulis.

Autumn Durald Arkapaw menjadi inspirasi nyata. Ia menunjukkan bahwa batasan, baik gender maupun warna kulit, bisa ditembus. Di setiap frame filmnya, kita melihat bukan hanya keindahan visual, tetapi juga pesan kuat: perempuan pantas berdiri di atas panggung tertinggi, dan dunia sinema perlahan mulai membuka matanya untuk melihat itu.

Baca Juga: Bawang Putih Bertunas, Masih Aman Dimakan atau Harus Dibuang?

Dengan kemenangannya, Arkapaw bukan hanya menulis sejarah, tetapi juga menyalakan api harapan bagi perempuan kreatif di seluruh dunia. Malam itu, panggung Oscars tak hanya merayakan sinematografi; ia merayakan keberanian, keberagaman, dan masa depan yang lebih inklusif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X